• Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra

Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Hati-Hati, Anggota Dewan Yang Doyan Bolos Jelang Pemilu

Menjelang Pemilu, kader-kader partai disibukkan dengan berbagai persiapan. Tak terkecuali para kader partai yang masih berstatus sebagai anggota dewan. Tak sedikit yang akhirnya “menelantarkan” tugas dan tanggung jawab mereka sebagai wakil rakyat alias bolos dalam berbagai agenda.

Untuk mengantisipasi kondisi ini, Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa Effendi Choiri berencana mengenakan sanksi kepada anggota fraksinya yang mulai mangkir dari tanggung jawabnya. Menurut pria yang akrab dipanggil Gus Choi ini, mengumumkan nama-nama anggota yang jarang hadir dalam setiap agenda DPR dapat menjadi langkah awal antisipasi.

“Nanti kita mau umumkan, kalau perlu menjelang akhir tahun ini, mana-mana anggota yang aktif dan yang tidak aktif, atau nanti waktu reses kita rekap siapa-siapa yang aktif dan tidak,” ujar Gus Choi di Gedung DPR RI, Kamis (18/12).

Gus Choi mencatat saat ini, banyak anggota dewan yang mulai jarang mengikuti agenda DPR, baik rapat pansus, komisi, maupun paripurna karena sibuk dengan agenda kampanyenya di dapil masing-masing. Sanksi awal ini dinilai paling tepat supaya agar publik dapat menilai kinerja para anggota dewan tersebut. “Karena ini politik biar publik yang menilai, selama satu tahun, waktu RUU Transnational, saya di ruangan tinggal bertiga, PDIP ada empat orang padahal tanda tangan ada,” ujar Gus Choi.

Pola pikir anggota dewan bukan lagi ke arah menyelesaikan tanggung jawab sepenuhnya, namun lebih berpikir “tahunya beres” saja. “Kalau tidak ada voting dianggap tidak ada masalah berarti kalau nggak ada voting berarti di komisi udah selesai,” tandas Gus Choi. Gus Choi berharap Sekretariat Jendral DPR dan Pimpinan DPR juga memperhatikan masalah ini.


Minim Caleg Perempuan, Salah Perempuan Sendiri

Rendahnya partisipasi perempuan dalam politik, terutama keterwakilan perempuan dalam gedung rakyat yang dikeluhkan selama ini, dinilai sebagai kesalahan perempuan itu sendiri.

Perempuan enggan berpartisipasi dalam politik karena menganggap politik itu “kotor” hingga memutuskan tak ingin sama sekali menyentuh atau bahkan menceburkan diri dalam dunia politik.

Menurut Sosiolog UI Fransisca Saveria Sika Ery Seda, fenomena kotornya dunia politik ada benarnya. Namun, semua orang, tak terkecuali lelaki, juga berpikir seperti itu.

“Laki-laki juga berpikir seperti itu. Namun, tidak ada laki-laki yang tak mau menjadi anggota DPR karena menganggap politik itu kotor,” ujar Ery dalam seminar nasional bertajuk “Ibuisme: Konstruksi Sosial Keperempuanan Indonesia” di Universitas Paramadina, Kamis (18/12).

Ery mengatakan, akhirnya perempuan cenderung menghindar dan jatuh dalam keputusan untuk berkoar-koar saja. Padahal, jika menginginkan perubahan, perlu orang-orang yang mau berjuang menempatkan diri dalam posisi pengambil kebijakan.

“Kita enggak cukup demonstrasi dan seminar tiap hari. Harus ada orang-orang yang berposisi dalam pengambil keputusan dan memiliki keberpihakan,” tutur Ery.

Jika tak ada perempuan-perempuan, bahkan lelaki, yang memiliki keberpihakan terhadap perempuan dalam posisi-posisi pengambilan kebijakan, jangan harap produk hukum yang akan dihasilkan juga bersahabat kepada perempuan atau kelompok minoritas lainnya.

Dosen Filsafat UI, Rocky Gerung, juga menegaskan bahwa kuota keterwakilan perempuan sebesar 30 persen itu bukanlah pembatasan terhadap hak perempuan dalam politik.

“Coba belajar dari sejarah, kehidupan lelaki pada politik masa lampau itu adalah 120 persen. Dia tak hanya punya hak di dalamnya, tapi justru menindas. Kebebasan (bagi perempuan) sekarang ini adalah hasil perjuangan sedikit demi sedikit,” tandas Rocky.


Gerindra Siap Lampaui Suara PKS

Termotivasi hasil survei politik, Partai Gerindra menyatakan siap ‘menaklukkan’ PKS di Pemilu 2009. Tak hanya dalam soal perolehan suara partai, tetapi juga dalam kompetisi di pilres. Gerindra bahkan berambisi mengusung capres sendiri.

“Kita nggak takut karena sebetulnya posisi di antara PKS dan Gerindra sama tapi jangan lupa Gerindra ingin mencalonkan Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto sebagai capres,” kata Sekjen Gerindra Ahmad Muzani saat dihubungi INILAH.COM, Jakarta, Kamis (18/12).

Direktur Eksekutif LSN Umar S Bakry mengatakan perolehan suara nasional Gerindra kemungkinan besar akan menyamai PKS, berkisar antara 7 hingga 10 persen.

Peluang Gerindra di 2009 diperkirakan semakin besar jika partai Prabowo Subianto itu mampu membangun jaringan sedahsyat iklan-iklannya di televisi, maka bukan tak mungkin partai itu menjadi ancaman serius bagi parpol besar.

“Kita anggap hasil itu sebagai kabar gembira saja tetapi tidak boleh terlena juga,” ujar Muzani menanggapi hasil survei LSN itu.

Meski tergolong partai baru, target Gerindra harus mampu mengusung capres sendiri di Pilpres 2009. Prediksi LSN yang menyatakan Gerindra lolos parliamentary threshold dijadikan sebagai penyemangat.

Gerindra, lanjut Muzani, akan bekerja keras untuk mencapai targetnya tersebut. Salah satu cara yang digunakan Gerindra untuk meningkatkan popularitasnya dengan gencar beriklan di televisi.
“Tren kampanye bendera untuk Gerindra yang berumur belum lama tidaklah efektif. Suatu hal yang lazim kita beriklan di media yang menjangkau luas masyarakat (televisi),” paparnya. (inilah.com)


Gerindra Diprediksi Taklukkan PKS

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) diperkirakan dapat menjadi ‘kuda hitam’ sekaligus ancaman serius bagi partai politik besar pada Pemilu 2009.

“Jika partai Prabowo Subianto itu mampu membangun jaringan sedahsyat iklan-iklannya di televisi, maka bukan tak mungkin partai itu menjadi ancaman serius bagi parpol besar,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN) Umar S Bakry di Jakarta, Selasa (16/12).

Umar Bakry mengatakan perolehan suara nasional Partai Gerindra kemungkinan besar akan menyamai Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berkisar antara tujuh hingga 10 persen.

“Partai Gerindra diprediksi mampu menggembosi kantong-kantong suara Partai Golkar dan menggerus sebagian konstituen PDI Perjuangan,” katanya.

Sementara itu, PKS yang semula diperkirakan banyak pengamat dapat menjadi penantang serius bagi Partai Demokrat, PDI Perjuangan dan Partai Golkar, kata Umar, diramalkan perolehannya tidak akan terlalu melejit.

PKS, yang pada Pemilu 2004 meraih 8.325.020 suara atau 7,34 persen dan menempatkan 45 wakilnya di DPR, diperkirakan tidak akan memperoleh suara di atas 10 persen.

“Kecenderungan pragmatisme yang dikembangkan PKS belakangan ini tampaknya dapat menjadi bumerang bagi ambisinya untuk menjadi partai papan atas,” kata Umar.

Sementara itu PAN, PPP, dan PKB, menurut Umar, tampaknya tetap harus berpuas diri dengan predikat partai kelas menengah.

“Jika bisa mempertahankan perolehan kursi sebagaimana yang mereka peroleh dalam Pemilu 2004 sudah merupakan prestasi yang hebat buat ketiga partai ini,” katanya.

Menurut dia, PAN, PPP, dan PKB kemungkinan hanya mampu mendulang suara antara empat hingga tujuh persen. Yang jelas, mereka berpeluang lolos Parliamentary Threshold (PT).

Umar memperkirakan hanya 10 parpol yang lolos PT yakni Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Golkar, PKS, PPP, PAN, PKB, Gerindra. Dua “jatah” lainnya kemungkinan diperebutkan lima parpol yakni Hanura, PKNU, PBR, PBB dan PDS.

“Kelima parpol ini berpeluang lolos PT kalau mau bekerja keras membangun dukungan. Saat ini upaya mereka masih minim,” katanya.
Hanura, kata Umar, belakangan nampak kurang greget dibandingkan pada awal pendiriannya. PKNU terlihat kurang serius dalam memperluas basis dukungan di luar Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara PBR, PBB, dan PDS masih kurang kreatif dalam merebut simpati calon pemilih. (inilah.com)


Prabowo Akan Tetap Perjuangkan Petani

Berbeda dengan Partai Demokrat yang menjadikan isu antikorupsi dalam iklan politiknya, serta sembako murah seperti diusung PDIP, calon Presiden Partai Gerindra Prabowo Subiyanto tetap bertekad memperjuangkan petani dan nelayan.

“Kami tetap konsisten memperjuangkan petani dan nelayan sebab 60 persen rakyat Indonesia berasal dari sana,” ujar Prabowo usai menghadiri debat bersama Capres Mahasiswa di kampus UGM Yogyakarta, Rabu (10/12/2008).

Disinggung mengenai rencana koalisi dengan partai lain, putera begawan ekkonomi Sumintro ini mengaku sangat terbuka bagi parpol mana pun, selama memiliki kesamaan visi kerakyatan serta nasionalisme.

“Komunikasi jalan terus kok. Sebab syarat 20 persen itu kami akui cukup berat,” katanya.

Diminta komentarnya mengenai hasil survei Puskaptis yang menempatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Sri Sultan Hamengku Buwono X pada posisi teratas sebagai capres dan cawapres, Prabowo mengaku belum melihat hasil survei tersebut. “Hasil survei? Saya belum lihat,” kelitnya. (okezone)


838 Pages« First...10...823824825...830...Last »