• Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra

Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Bakti Sosial Korban Kebakaran Tambora

Fadli Zon & Halida Hatta selaku pengurus Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra memberikan bantuan untuk meringankan korban kebakaran di Jalan Duri Dua, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

[nggallery id=2]


Prabowo Subianto resmi jadi anggota Partai GERINDRA

Setelah mengadakan pemikiran yang mendalam, demi untuk memperjuangkan kepentingan kaum tani,    nelayan,   dan buruh,  serta  seluruh rakyat Indonesia,  maka  pada  hari  Sabtu,  12 Juli 2008 , H. Prabowo Subianto  resmi menyatakan dirinya keluar dari Partai Golkar dan bergabung berjuang bersama  partai yang bernomor urut ‘5’,  Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA).
Pernyataan bergabungnya Prabowo, tokoh yang terkenal tegas dan cerdas tersebut disampaikan dihadapan ratusan pengurus DPP, DPD dan DPC Partai Gerindra, saat syukuran lolosnya partai berlambang kepala burung garuda itu menjadi peserta pemilu 2009, di Gunungputri, Bogor.

Bergabungnya jendral berbintang tiga tersebut langsung disambut dengan teriakan ‘hidup Prabowo, hidup Gerindra !!  Tidak hanya membuat pernyataan, Prabowo juga langsung mengisi formulir kartu tanda anggota partai dan mendapatkan nomor anggota  AA.05.000008.07.08. dari DPC Jakarta Selatan. (MAM)


Dinasti Politik, Regenerasi yang Tidak Tepat

Kalangan parpol yang sudah menyiapkan strategi regenerasi penyusunan calon legislatif (caleg) pada pemilu 2009 dari keluarganya sendiri dinilai pengamat politik Arbi Sanit sebagai regenerasi yang tidak tepat. Menurut dia, fenomena ini adalah dinasti politik yang terlalu banyak kelemahan dibanding keuntungannya.

Fenomena yang sedang trend di kalangan para politisi  saat ini adalah tidak sedikit dari mereka yang memasukkan anak atau keluarganya dalam daftar caleg sebagai investasi politik jangka panjang. Sekaligus penerus kiprah mereka di pentas politik nasional.

Antara lain tercatat, Partai Demokrat yang akan mencalonkan Putra SBY, Edi Baskoro sebagai caleg dari daerah pemilihan (Dapil) DKI Jakarta. Demikian halnya, PDIP yang turut mencalonkan putri Megawati, Puan Maharani. Serta Partai Golkar yang tengah menyiapkan generasi lapis kedua dari elitenya, Dave laksono yang merupakan putra Agung Laksono.

Kondisi seperti ini, menurut Arbit Sanit bukan merupakan fenomena baru dalam kancah perpolitikan dunia.

“Dinasti politik itu biasa dalam dunia perpolitikan. Dan itu mengandung banyak kerugian yang melekat di dalamnya,” ujar Arbi saat dihubungi okezone melalui telepon, Kamis (10/7/2008).

Arbi mencontohkan langkah politik George Bush dan JF Kennedy di Amerika, yang sama-sama menerapkan dinasti politik.

“Keuntungannya mereka mempunyai peluang membangun kepemimpinan secara pasti. Dan dalam jangka panjang mereka telah siap dan dipersiapkan,” imbuhnya.

Namun demikian, Arbi menyatakan dinasti politik terlalu banyak pelapukan-pelapukan dalam regenerasinya. Meskipun Arbi mengaku dinasti ini tidak sepenuhnya busuk jika ada dinasti alternatif.

“Jadi yang kemudian berkembang dalam politik itu tidak hanya satu dinasti. Dengan begitu Demokrasi tetap akan bisa berjalan,” katanya lagi.

Secara tegas Arbi menyangkal jika fenomena elit politik sekarang itu dinilai sebagai regenerasi poltik. “Kalau dikatakan regenerasi itu waktunya terlalu pendek, minimal butuh tenggang waktu 25 tahun untuk sebuah regenerasi,” pungkasnya. (okezone.com)


Konsolidasi Nasional Partai Gerindra se-Indonesia

Setelah dinyatakan berhak mengikuti Pemilu 2009, seluruh jajaran pengurus Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA) ditingkat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) se-Indonesia mengadakan konsolidasi di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta.

Konsolidasi yang diadakan dari tanggal 11 Juli sampai 13 Juli 2008 ini diadakan untuk memantapkan dan menyatukan misi dan visi partai yang bernomor 5 itu.

Dalam kesempatan itu pula diadakan semacam pembekalan tentang Manifesto Perjuangan Partai, Arah kebijakan Partai, tata cara Pemilu dan Pemenangan Pemilu 2009, yang akan diisi oleh jajaran DPP dan para ahlinya. Ketika berita ini ditulis berbagai DPD dan DPC dari Kaltim, Jateng, Kalsel, Yogya, Jatim, Sumbar, Bali, NTB, NTT, Gorontalo, Sumsel sudah pada berdatangan ke Asrama Haji Pondok Gede.

Esok harinya rencananya akan diadakan syukuran atas lolosnya partai berlambang kepala garuda itu menjadi peserta Pemilu 2009.(Ardi)


Butuh figur baru dalam Pilpres 2009

Munculnya figur baru di kancah kepemimpinan nasional dalam pemilihan presiden secara langsung pada 2009 saat ini sangat didambakan banyak pihak. Hal itu terjadi karena rata-rata figur calon presiden yang diusung sejumlah partai politik saat ini umumnya tokoh-tokoh lama yang track record-nya di mata rakyat tidaklah begitu baik. Tak heran, ketika ada pihak yang memunculkan duet Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden alternatif dalam pilpres 2009, banyak pihak yang menilai positif terutama untuk mengurangi dominasi figur-figur lama.

Sebab, keberadaan figur-figur lama yang begitu dominan di hampir semua tatanan pemerintahan Indonesia, terutama di tingkat nasional, saat ini menyebabkan regenerasi kepemimpinan nasional di negeri tercinta ini menjadi stagnan. Selain itu, upaya pengembangan kehidupan politik di tanah air hingga kini cenderung jalan di tempat, karena tokoh-tokoh yang dimunculkan umumnya figur-figur lama yang kualitas dan kredibilitasnya tetap diragukan masyarakat.

Kenyataan itu terjadi karena sejak reformasi digulirkan dan Orde Baru pimpinan mantan Presiden Soeharto tumbang hingga kini Indonesia belum juga mampu melepaskan diri dari keterpurukan baik di bidang ekonomi maupun politik. Padahal, sejumlah tokoh nasional seperti BJ Habibie, Abdurakhman Wahid [Gus Dur], Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono [Presiden RI sekarang] secara bergantian telah memimpin negeri ini. Memang, kehidupan demokrasi di tanah air pascareformasi telihat semakin baik, namun hampir semua tatanan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Indonesia hingga sekarang tetap terpuruk.

Untuk itu munculnya keinginan sejumlah pihak agar figur-figur baru tampil dalam bursa kepemimpinan nasional untuk menggantikan muka lama dalam pemilihan presiden secara langsung pada 2009, tentu merupakan hal wajar yang layak didukung. Sebab, tampilnya figur baru seperti Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Prabowo Subianto  dalam pilpres 2009 itu, selain memungkinkan rakyat memiliki banyak pilihan terhadap figur tokoh yang layak memimpin Indonesia pada masa mendatang, juga agar regenerasi kepemimpinan nasional di negeri ini tak jalan di tempat.

Apalagi, hingga kini calon-calon presiden yang dimunculkan sejumlah parpol dalam pilpres 2009 umumnya masih didominasi tokoh-tokoh lama seperti Megawati [PDI-P], Wiranto [Partai Hanura], Abddurahman Wahid [PKB], Susilo Bambang Yudhoyono [Demokrat], Jusuf Kalla [Partai Golkar], dan Sutiyoso [belum jelas parpol yang mengusungnya]. Nama Sutiyoso dalam bursa calon presiden barangkali memang termasuk wajah baru, namun ia sesunguhnya bukanlah figur baru karena telah dua periode Sutiyoso menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Dari nama-nama calon pemimpin nasional yang muncul itu, jelaslah bahwa figur-figur yang diusung parpol menjadi calon presiden dalam pilpres 2009 hampir tidak ada satu pun yang termasuk wajah baru. Padahal, track record tokoh-tokoh yang sebagian besar pernah menjadi presiden, wakil presiden, atau calon presiden itu di mata rakyat umumnya tidaklah baik. Mereka umumnya dianggap telah gagal memperbaiki kesejahteraan rakyat dan tatanan kehidupan sosial-ekonomi Indonesia yang sampai sekarang masih memprihatinkan keadaannya.

Karena itu tentu sangatlah tepat jika ada pihak yang berusaha menduetkaan Sri Sultan Hamengkubuwono sebagai alternatif pasangan calon presiden dalam pilpres 2009. Meski keduanya belum mewakili komunitas rakyat Jawa dan luar Jawa, namun pasangan dari sipil-militer ini track record-nya di mata rakyat jauh lebih baik dibandingkan tokoh-tokoh lama. Sri Sultan yang selama ini menjadi Raja dan Gubernur DI Yogyakarta dikenal sangat jujur, merakyat, demokratis, dan bijak dalam mengambil setiap keputusan, sedangkan Prabowo yang mantan Komandan Kopassus itu memiliki tabiat sangat tegas. Untuk itu memadukan karakter kedua tokoh ini tentu sangatlah tepat karena saat ini Indonesia membutuhkan tipikal memimpin yang seperti itu guna mengatasi keterpurukan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat negeri ini. (harianterbit)


808 Pages« First...10...804805806...Last »