• Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra

Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Prabowo : Kita Tak Butuh Bursa-bursaan

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mentatakan penutupan bursa saham di Bursa Efek Jakarta sejak Rabu (8/10) tidak menjadi perhatian partainya.  “Kita tidak kenal bursa-bursaan, Biar saja bursa tutup, Tidak pateken, Kita hanya akan mengurus sawah, kita hanya akan mengurus jagung. Kita akan capai swasembada pangan dan energi,” kata mantan Danjen Kopasus semasa Presiden Soeharto itu dalam pembekalan caleg dan kader Partai Gerindra di Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (11/10).

Partai baru yang masih muda ini juga akan mengadakan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 15-16 Oktober di Jakarta Convention Center (JCC). Menghadapi pemilu tahun depan Partai ini tidak menargetkan jumlah kursi namun akan berjuang maksimal. “Kita akan raih sebesar-besarnya. Pokoknya kita akan bekerja sebaik-baiknya untuk rakyat,” tegasnya. (kompas.com)


Prabowo akan Tendaan di Cibubur

Tendaan alias berkemah mewarnai acara pelantikan 1.349 kader Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto pun bakal ikutan.

“Nanti malam saya akan tendaan, kalau perlu kita buat api unggun,” ujar Prabowo di hadapan para kadernya di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta, Sabtu (11/10).

Selain itu mantan Danjen Kopassus ini mengutarakan alasannya terjun ke dunia politik. Prabowo mengaku ingin memperbaiki kehidupan masyarakat dan rakyat. Jika dirinya tidak berpolitik, berarti tidak bisa ikut mengambil keputusan.

“Seperti pepatah nenek moyang dulu, kalau orang baik semua diam, berarti yang berkuasa orang jahat,” ucap mantan menantu almarhum mantan Presiden Soeharto ini.

Menurutnya, jika ingin memperbaiki kondisi Tanah Air, mengubah keadaan rakyat, atau keluar dari kemiskinan, harus ikut mengambil keputusan yang benar untuk rakyat.

“Kita ingin menjadi wakil rakyat, kita harus kuat dan tahan. Tidak boleh menghindar dari kesulitan,” pungkasnya. (inilah.com)


Prabowo Kalem Masuk 3 Besar Capres

Hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) menempatkan tingkat elektabilitas Prabowo Subianto meroket hingga menempati ranking 3 besar capres. Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini kalem saja.

“Yang penting kita terus bekerja agar mendapat kepercayaan masyarakat. Kadang-kadang survei bisa naik bisa turun,” ucap Prabowo usai acara pelantikan 1.349 kader Partai Gerindra di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta, Sabtu (11/10).

Mengenai perolehan suara Gerindra pada Pemilu 2009, mantan Danjen Kopassus ini menargetkan sebesar-besarnya. Sedangkan untuk capres maupun cawapres masih jauh.

Jika duet SBY-JK kembali muncul dalam Pilpres 2009? “Tidak masalah. Rakyat yang akan menentukan,” ujarnya sambil memasuki mobil Lexus putih B 107 PS.

LSN melansir hasil survei tingkat elektabilitas Prabowo berada di peringkat 3, yang akan dipilih 14,2 persen responden jika pilpres dilakukan hari ini. Sedangkan SBY ada di ranking pertama dengan 30 persen, Megawati pada posisi kedua dengan 15,3 persen.

Popularitas mantan menantu almarhum mantan Presiden Soeharto tersebut mencuat karena iklan Prabowo dinilai memikat. Sebanyak 79,9 persen publik mengaku suka iklan Prabowo yang mengandung pesan-pesan simpatik mewakili masyarakat petani, nelayan, dan pedagang pasar tradisional. Prabowo dinilai sebagai sosok tegas dan berwibawa untuk memimpin RI.

Hasil survei LSN selengkapnya untuk tingkat elektabilitas yakni SBY (30 persen), Megawati (15,3%), Prabowo (14,2%), Hidayat Nurwahid (4,8%), Sri Sultan HB X dan Yusril Ihza Mahendra (4,3%), Amien Rais (2%), Wiranto (1,5%), Gus Dur (1,3%), Jusuf Kalla, Sutiyoso, dan Soetrisno Bachir (0,8%), Rizal Mallarangeng (0,5%), Akbar Tandjung (0,3%).

Sedangkan mengenai siapa paling pantas menjadi capres, SBY menjadi jawara dengan 55,4 persen, kemudian Prabowo (47,7%), Megawati (32,8%), Wiranto (28,7%), Sri Sultan HB X (26,4%). (inilah.com)


Popularitas Prabowo Meroket

Setelah sempat terpuruk akibat kebijakan kenaikan harga BMM, popularitas SBY kini kembali naik (rebound). Sementara Prabowo Subianto menjadi satu-satunya pesaing SBY yang paling fenomenal. Tingkat elektabilitas Prabowo terus meroket bersamaan semakin bersinarnya popularitas Partai Gerindra.

Hal itu terungkap dalam survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang dilakukan tanggal 20-27 September 2008.

Dalam siaran pers yang diterima INILAH.COM, Kamis (9/10) terungkap, tingkat elektibilitas SBY menduduki rangking pertama sebesar 30,%. Kemudian disusul Megawati 15,3%, Prabowo Subianto 14,2%, Hidayat Nur Wahid 4,8%, dan Sultan HB X sebesar 4,3%.

Menurut Direktur Eksekutif LSN Umar S Bakry, bangkitnya populariats SBY tidak terlepas dari kinerja KPK beberapa bulan terakhir ini.

“Gebrakan yang dilakukan KPK beberapa bulan terakhir ini dipersepsikan publik sebagai bentuk keseriusan SBY memberantas korupsi,” katanya. Di samping itu, kebijakan pemberian Bantuan Langsung Tunai juga cukup menghibur masyarakat miskin,” ujarnya.

Sedangkan ihwal meroketnya figur Prabowo, Umar menilai tidak terlepas dari iklan politik yang ditampilkan di media visual selama ini. “Sebanyak 79,9 % publik mengaku suka terhadap iklan Prabowo yang mengandung pesan-pesan simpatik mewakili masyarakat petani, nelayan dan pedagang pasar tradisional,” jelasnya. (inilah.com)


Prabowo Tampil ‘Merakyat’?

Terjun ke politik seraya terus berbisnis tak membuat Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo lelah dan letih. Keduanya masih berbagi kepedulian terhadap pendidikan dan pembangunan sosial.

Bagi kakak-beradik itu, kemajuan politik dan pendidikan harusnya seirama. Jika pendidikan maju, maka politik akan terpengaruh pula. Tapi, jika pendidikan mundur, akan lain jadinya.

“Prabowo dan Hashim, putra begawan ekonomi Profesor Sumitro Djojohadikusumo, suka membantu memberikan kontribusi dan bantuan dana untuk perbaikan kualitas pendidikan dan kualitas SDM,” kata Nicholay Aprilindo, advokat dan penasehat hukum Hashim dan Prabowo, yang juga alumnus Fakultas Hukum tahun 1986.

Prabowo dan Hashim sering dikritik para aktivis sebagai sosok yang elitis dan kurang dekat ke kaum intelektual muda maupun kaum marginal umumnya. “Hanya lingkaran Fadli Zon yang bisa menembus Prabowo dan Hashim. Mereka memang sudah kenal lama,” kata Umar S Bakry MA, Direktur Lembaga Survei Nasional.

Lingkaran itu, kata para analis politik, harus diperluas dan diperdalam jika jaringan sosial mereka ingin berkembang. “Prabowo perlu banyak mendengar suara kaum muda dari manapun mereka,” kata Umar.

Di Partai Gerindra, Prabowo membangun institusi yang difokuskan sebagai partai kader. Sedangkan di dunia usaha, Hashim bergerak seraya mencermati dunia politik yang bertambah para aktornya. Keduanya dengan kepedulian sosial yang tinggi.

Glenny Kairupan masih ingat ketika Hashim suatu ketika datang ke Akademi Militer Magelang. Dia melihat drum band yang dibelikan ayahnya, 30 tahun lalu, masih dipakai taruna AMN. Hashim langsung membelikan drum band baru bagi AMN dimana kakak kandungnya, Prabowo dulu jadi taruna militer.

“Hashim dan Prabowo sama dengan ayahnya, punya komitmen meningkatkan kualitas pendidikan. Di AMN, drum band sumbangan Hashim itu merupakan sarana belajar dan diapresiasi banyak orang,” kata Glenny Kairupan, Ketua Gerindra.

Hashim — lewat Yayasan Keluarga Hashim Djojohadikusomo — hingga kini telah memberi bantuan kepada Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Kristen Duta Wacana, dan satu SMA di Ungaran. Dia juga membina silaturahmi dengan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Hashim pernah mengagetkan dunia bisnis internasional pada Oktober 2006. Dia melego Nations Energy, perusahaan minyaknya di Kazakhstan, senilai US$ 1,91 miliar — aset perusahaan itu sendiri nilainya US$ 2,3 miliar. Tahun lalu namanya mencuat lagi karena masalah pencurian arca museum Radya Pustaka di Solo. Ia tertipu dan dirugikan orang asing yang menjual arca itu.

Kini Hashim dan Prabowo tak hanya berbisnis, tapi perduli politik. Ini akibat kondisi negara dan bangsa yang mengkhawatirkan mereka. Menurut keduanya, Indonesia sekarang memiliki potensi disintegrasi yang tinggi. Keduanya juga menangkap generasi muda tidak terlalu paham identitas bangsanya. Dari membaca maupun hasil polling, keduanya sependapat Pancasila seakan dikesankan tidak relevan lagi. Keduanya juga merasa kemerosotan ekonomi bangsa dan reformasi yang sudah berjalan 10 tahun tidak lebih baik daripada masa Orde Baru.

Seperti halnya mereka, Jusuf Kalla, Wapres dan Ketua Umum DPP Partai Golkar juga pernah mengakui capaian reformasi tidak sehebat Orde Baru. Itu kalau semua pihak mau jujur.

Dengan melihat realitas yang ada itu, Prabowo dan Hashim sedang menapak untuk berperan serta memajukan Indonesia melalui dunia politik dan bisnis di tengah percaturan demokrasi prosedural yang sengkarut. Pencalonan Prabowo membuat mereka menjadi sorotan publik atas kiprah mereka dalam meraih simpati rakyat. Sejarah, belumlah tamat. (inilah.com)


808 Pages« First...10...799800801...Last »