• Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra

Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Jasad Ibunda Prabowo Dimakamkan Rabu

Jenazah ibunda Prabowo Subianto, Dora Sigar yang meninggal di RS Mount Elizabeth, Singapura, tiba di Jakarta. Pemakaman akan dilaksanakan di TPU Tanah Kusir, Rabu besok.

Rombongan jenazah tiba sekitar pukul 12.00 WIB, Selasa (23/12) di rumah duka di Jl Metro Kencana IV, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Jenazah istri begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo itu dibawa dengan mobil jenazah sedan volvo berwarna hitam.

Peti jenazah kemudian diletakkan di ruang keluarga. Sementara Prabowo dan adiknya Hashim tampak mengiringi di belakang.

Sementara di sepanjang jalan menuju rumah duka, karangan bunga dari kolega Prabowo terus berdatangan. Tampak karangan bunga dari Megawati dan suaminya Taufiq Kiemas, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Sutiyoso, hingga Muchdi Pr. Sementara karangan bunga dari Presiden SBY diletakkan di halaman rumah.
Ketika dikonfirmasi, seorang panitia mengaku belum menerima karangan bunga dari mantan istri Prabowo, Siti Hardijanti atau Mbak titik. Karangan bunga dari keluarga cendana diwakili oleh Probosutedjo dan Sudwikatmono.(Inilah.com)


3 Diva Berbagi Rasa dengan Prabowo

Prabowo sedang berdukacita setelah berpulangnya sang ibunda, Dora Sigar Soemitro. Merasa sudah seperti keluarga, dua personel 3 Di3va yakni Kris Dayanti dan Ruth Sahanaya, serta diva tembang kenangan Yuni Shara, berbagi rasa bersama Prabowo.

“Kami turut berdukacita, berbelasungkawa. Semoga arwah beliau diterima di sisi Tuhan, dan untuk keluarga yang ditinggalkan, Bapak Prabowo, agar sabar dan menerima,” kata ketiganya secara bergantian.

Ketiganya baru saja melayat di rumah duka di Pondok Indah, Jakarta, Selasa (23/12). Diakui Yuni, ketiganya sudah menjadi bagian dari keluarga Prabowo melalui Partai Gerindra.

Pernyataan Yuni diamini Ruth. “Ya sekarang kita sudah seperti keluarga, sudah selayaknya kita turut berbagi rasa bersama,” ujar perempuan yang akrab disapa Uthe ini.

Kris Dayanti yang mengenakan gaun terusan sedengkul ungu kemudian menimpali. “Artinya buat kami, pernikahan dan kematian sudah bagian dari silaturahmi,” kata istri Anang yang kerap disapa dengan inisialnya, KD.

Yuni mengaku cukup lama berada di dalam rumah duka. Namun tidak banyak yang dibicarakan. Prabowo disebutkan perempuan mungil bergaun terusan ungu dan blazer hitam selutut ini sempat menyampaikan ucapan terima kasih.

“Bapak sibuk juga ya, karena di sini kepentingan kita untuk seluruh keluarga juga,” imbuh Uthe berblus setelan rok hitam yang didampingi suaminya, Jeffry Waworuntu.(Inilah.com)


Prabowo Presiden Kaum Petani?

Ketua Umum DPP Gerakan Nasional Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto menegaskan siap maju sebagai calon presiden (capres) pada Pemilu 2009, bila petani dan nelayan di seluruh Indonesia menginginkannya.

“Jadi tergantung pada dukungan petani, nelayan dan pedagang di seluruh tanah air,” kata Prabowo kepada wartawan saat ditanya tentang target perolehan suara pada Pemilu 2009 dan kesiapannya untuk maju sebagai capres, di Kendari, Senin (22/12).

Ketua umum DPP Gerindra berada di Kendari, selain menghadiri seminar nasioanal yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Unhalu bekerja sama dengan HKTI, juga melakukan pertemuan dengan pengurus Partai Gerindra dan silaturahmi dengan perhimpunan nelayan dan pwtani se-Sulawesi Tenggara di Kota Kendari.

Menurut jenderal purnawirawan bintang tiga itu, meski Partai Gerindra merupakan partai yang baru lahir, tetapi beberapa pengamat politik serta hasil survei menyebutkan kehadiran partai yang kini menghimpun seluruh tani, nelayan, dan pedagang itu pada Pemilu mendatang akan memperoleh dukungan suara yang signifikan.

“Yang saya tahu banyak pengamat menyatakan bahwa Partai Gerindra pada Pemilu mendatang diperkirakan masuk peringkat 4-5 besar dalam perolehan suara,” kata Prabowo.

Ia mengatakan, pada awalnya pihaknya tidak pernah berniat untuk mendirikan sebuah partai, apalagi rakyat Indonesia sudah lelah dengan banyak partai, namun karena melihat kondisi ekonomi rakyat yang semakin terpuruk, dirinya bersama sejumlah mantan pejabat penting di tanah air memutuskan untuk mendirikan partai tersebut.

Di depan ratusan kader dan simpatisan partai, Prabowo Subianto mengharapkan pengurus partai Gerindra Sultra untuk berjuang memperoleh banyak suara pada Pemilu 2009.

Ia juga mengharapkan kepada pengurus partai agar tidak hanya berdiam diri tetapi setiap hari harus turun ke desa dengan memberi sosialisasi dan pemahaman tentang program kerja partai untuk memperoleh dukungan suara mayoritas.

“Desa-desa terpencil dan desa-desa pesisir merupakan basis dan kantong-kantong untuk memperoleh suara. Oleh karena itu, mulai sekarang harus banyak melakukan sosialisasi ke wilayah itu,” katanya.
Ketua DPD Partai Gerindra Sultra, Yani Muluk mengatakan kehadiran Ketua Umum DPP Gerindar di Bumi Anoa Sultra sudah dinantikan oleh para petani, nelayan dan pedagang. (inilah.com)


Prabowo Goyang Dominasi SBY-Mega

Ambisi politik Prabowo Subianto ‘menggoyang’ dominasi SBY dan Megawati Soekarnoputri di bursa capres 2009 semakin menggebu. Mantan Pangkostrad ini yakin, Partai Gerindra bakal jadi pilihan rakyat yang menginginkan kemandirian pangan, energi, dan ekonomi.

Kompetisi memperebutkan tiket calon presiden 2009 makin ramai saja. Dua nama, di atas kertas, sulit tertandingi: Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri. Yang seru, justru meraih tiket capres alternatif. Setelah Sri Sultan Hamengku Buwono X, belakangan muncul pula rencana duet M Jusuf Kalla-Hidayat Nur Wahid.

Capres alternatif sebelumnya mulai keder. Tapi tidak Prabowo Subianto. Optimisme kubu Gerindra bahwa Prabowo akan memenangkan pertarungan sebagai calon presiden, terus menjulang. Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra menegaskan Prabowo makin mantap menjadi calon presiden dan yakin akan menjadi ‘ikon kejutan’ dalam pemilu 2009.

“Komitmen Prabowo untuk memberdayakan petani miskin, nelayan marginal, dan kaum pedagang tradisional yang kian periferal, akan memompa energi Gerindra dan jaringan sosialnya untuk meraih kemenangan,” kata Fadli, alumnus UI dan London School of Economics.

Sejauh ini, gencarnya iklan Gerindra di stasiun televisi ditujukan untuk publikasi ke masyarakat dalam rangka meraup suara sebanyak-banyaknya. Semua upaya dlakukan Gerindra untuk memperbesar suara partai, baik DPRD maupun DPR.

Fadli Zon menyatakan, bagi Gerindra tidak ada masalah soal dana kampanye. Dana itu, dihimpun dari berbagai sumber, bukan hanya dari Prabowo. Banyak pengusaha, kader, simpatisan, dan masyarakat yang mendukung Gerindra.

Berdasarkan data AC Nielsen atas pengeluaran parpol untuk iklan, Gerindra dan Partai Demokrat adalah dua partai yang paling agresif beriklan dalam 3-4 bulan terakhir. Rata-rata pengeluaran iklan Gerindra per bulan adalah Rp 9 miliar, sementara PD Rp 8,5 miliar. Dibandingkan kedua partai ini, dalam empat bulan terakhir, PKS mengeluarkan dana Rp 2 miliar, PDI-P Rp 1,5 miliar, dan Golkar Rp 5 miliar untuk iklan.

Pengamat politik Eep Saefullah Fatah menganalisis capres paling berduit. “SBY, Megawati, dan Prabowo memiliki ketersediaan dana paling besar dibanding capres lainnya,” katanya.

Karena itu, kata Umar S Bakry, Direktur Lembaga Survei Nasional, peluang Gerindra di 2009 diperkirakan tetap moncer. “Jika partai Prabowo Subianto itu mampu membangun jaringan sedahsyat iklan-iklannya di televisi, maka bukan tak mungkin partai itu menjadi ancaman serius bagi parpol besar,” katanya.
Umar mengatakan perolehan suara nasional Partai Gerindra kemungkinan besar akan menyamai Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berkisar antara 7-10%. Artinya, jika pun nantinya berkoalisi mengajukan calon presiden, posisi Prabowo tetap kuat. (inilah.com)


Kampanye Negatif yang Cerdas Perlu Digalakan

Kampanye negatif yang cerdas perlu digalakan dalam pemilu presiden mendatang. Hal ini ditujukan untuk mengkritisi kinerja lawan politik dengan dukungan data yang kuat, namun tetap tidak masuk ke wilayah personal lawan serta menimbang kondisi psikologi massa.
Demikian disampaikan Direktur Reform Institute Yudi Latif kepada wartawan di J Lounge, Hotel Grand Melia, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (22/12/2008).
Menurut Yudi, kampanye negatif ini dilakukan agar kelainan dalam politik Indonesia dapat diperbaiki. Kelainan seperti tercermin dari hasil survei Reform Institute periode November hingga Desember lalu, yang menyatakan kepemimpinan SBY-JK gagal dalam bidang politik, ekonomi, kesejahteraan social, serta ketertiban dan keamanan.

Namun, mayoritas responden yang sama juga menyatakan masih menyukai pasangan pemimpin tersebut. Bahkan jika pemilu digelar pada saat survei dilakukan sebanyak 42,18 persen responden masih memilih Yudhoyono.

Meski mendorong kampanye negatif, Yudi mengaku hal ini tidak akan mudah dilakukan. “Tradisi berbeda pendapat di Indonesia belum lama berlangsung. Jadi, masih ewuh pakewuh dianggap tidak senonoh dan ada mitos tidak disukai publik,” katanya.

Kampanye jenis ini, kata Yudi, seringkali dianggap tidak menolong keadaan, malah justru memanfaatkannya demi kepentingan pribadi. Dia mencontohkan kritik keras Amien Rais atau kampanye Wiranto merupakan salah satu kampanye negatif yang didukung data. (okezone)

Yudi mengatakan, praktik serupa sebenarnya sudah menjadi tradisi di beberapa negara. Dia mencontohkan dalam kampanye pemilu presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu, kandidat Partai Demokrat Barack Obama kerap kali mengkritisi kebijakan George W Bush.


814 Pages« First...10...797798799...810...Last »