• Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra
  • Slide Partai Gerindra

Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Nur Wahid, Caleg Gerindra Bekasi Ini Berprofesi sebagai Pedagang Cakwe

nur-wahid-caleg-cakwe

Seorang pedagang cakwe bernama Nur Wahid (47) dikabarkan maju sebagai calon legislatif (DPRD) Kota Bekasi.

Demi bisa lolos, Nur Wahid menyiapkan dana sebesar Rp 250 juta untuk modal kampanye.

Nur Wahid yang maju di daerah pemilihan (Dapil) III, Kecamatan Muatikajaya, Rawalumbu, dan Bantar Gebang ini mengaku sudah mempersiapkan diri sejak 2014 untuk maju sebagai calon anggota legislatif.

“Dari 2014 saya sudah siapkan diri, alhamdulillah bulan Maret 2018 saya daftar ke DPC Gerindra Kota Bekasi dan maju jadi caleg nomor urut 9 di Dapil III,” kata Nur Wahid, Selasa, (5/3/2019).

Nur Wahid tidak pernah mempermasalahkan nomor urut buncit yang ia dapatkan.

Menurut dia, semua caleg tetap memiliki kesempatan yang sama.

Adapun gerilya kampanye juga tidak lepas dari latar belakangnya yang seorang pedagang cakwe.

Memiliki 12 gerobak cakwe dengan 12 karyawan, Nur Wahid mengerahkan seluruh pasukannya untuk membantu sosialisasi ke warga-warga serta menempelkan stiker atau bahkan spanduk di gerobak cakwe miliknya.

“Saya juga kebetulan kenal dan sempat membina beberapa pengusaha cakwe di Bekasi, saya minta bantuan ke mereka supa bantu sosialisasi minimal gerobaknya ditempel stiker saya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, tujuan utama maju sebagai calon anggota legislatif merupakan cita-citanya.

Nur Wahid yang telah sukses mejadi juragan cakwe ingin fokus menampung aspirasi pedagang kecil melalui jalur parlemen.

“Ini memang udah cita-cita saya, saya kepengan jadi pemimpin, kalau nanti saya terpilih juga saya ingin perjuangkan aspirasi pedagang kecil, karena saya juga dulunya memulai usaha dari nol kan,” jelas dia.

Adapun jika tidak terpilih, Nur Wahid mengaku tidak akan patah semangat.

Menurut dia, Pemilu 2019 ini akan jadi pengalaman perdananya menggeluti dunia politik.

“Kalau tahun ini gak kepilih saya siapin diri buat pemilu berikutnya, tapi mudah-mudahan tahun ini saya bisa terpilih,”jelas dia.

 

Sumber


Gerindra Soppeng Cari 1.566 Saksi, Taufik Kahar: Setiap TPS Ditugaskan Dua Saksi

sekretaris-gerindra-soppeng-taufik-kahar

Partai Gerindra Soppeng, mulai merekrut saksi menjelang Pemilihan Legislatif (pileg) 2019.

Sekretaris Gerindra Soppeng, Taufik Kahar mengatakan, ada 1.566 saksi yang akan direkrut oleh Partai Gerindra Soppeng.

Setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS), akan ditugaskan dua orang saksi saat pileg mendatang.

“Saksi yang kita rekrut berasal dari pengurus ranting partai Gerindra Soppeng,” tambah Taufik Kahar, Minggu (3/3/2019).

Saat ini, Gerindra Soppeng juga memverifikasi saksi-saksi yang akan digunakan pada pileg mendatang.

“Kami verifikasi dulu orangnya, dan nomor telponnya yang akan menjadi saksi,” ujar Taufik.

Saksi yang akan digunakan oleh Gerindra Soppeng akan bertugas mulai, penghitungan suara DPRD kabupaten, DPRD Sulsel, DPR RI, dan Pilpres.

Para pileg 2019, Gerindra Soppeng menargetkan delapan kursi. Pada pileg 2014, Gerindra meraih delapan kursi.

Sekedar diketahui, jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Soppeng sebanyak 783.

 

Sumber


Masuki Tahun 2019, Gerindra Semangat Jemput Perubahan Baru

Masuki Tahun 2019, Gerindra Semangat Jemput Perubahan Baru

Tahun 2019 menjadi satu pertanda bahwa semangat perubahan harus dipompa lebih keras, karena di tahun ini ada momentum penting yakni memilih kepemimpinan nasional.

Sehingga bila ingin ada perubahan yang lebih baik, maka solusinya adalah dengan memilih pemimpin baru di Pilpres 2019 nanti.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) Gerindra Moh. Nizar Zahro dalam keterangan tertulisnya yang diterima MONITOR, di Jakarta, Kamis (3/1).

“Untuk meraih kemenangan, semangat militansi harus terus dipupuk. Karena rezim akan menempuh segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya, dan ini bukan sekedar indikasi, tapi sudah fakta,” kata Nizar.

“Seperti halnya, kasus tercecernya e-KTP di beberapa tempat, dijualnya blanko e-KTP, dan juga temuan daftar pemilih tetap (DPT) ganda, adalah buktinya,” sambung dia.

Karena itu, dikatakan Nizar, dalam merayakan tahun baru harus menjadi harapan baru, dan Pilpres 2019 diyakini sebagai gerbang menuju Indonesia baru.

Bila menengok kebelakang, Nizar menjelaskan bagaimana tahun 2018 telah dilalui dengan beragam dinamika politik . Salah satu peristiwa yang patut disoroti adalah munculnya gerakan #2019GantiPresiden yang tidak butuh waktu lama, gerakan tersebut terus membesar dan merebak ke seluruh Indonesia.

“Gerakan itu tentu saja membuat rezim sangat ketakutan. Berbagai upaya dilakukan untuk meredam gerakan tersebut, mulai dari melayangkan tuduhan makar, mengerahkan preman-preman mengepung bandara dan merobek kaos #2019GantiPresiden, hingga mengintimidasi para tokohnya,” ujar anggota komisi X DPR RI itu.

“Kenapa gerakan #2019GantiPresiden cepat membesar. Jawabannya adalah karena rakyat ingin perubahan, rezim Jokowi dianggap sudah gagal memimpin negeri ini. Gagal total maka layak diganti,” terangnya.

Oleh karena itu, kata Nizar, jelang perhelatan Pilpres 2019 tinggal 3,5 bulan lagi, jika ingin perubahan, saatnya rapatkan barisan. “Kawal pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi menuju kemenangan di Pilpres 2019 nanti,” pungkas politikus Gerindra tersebut.

 

Sumber


Fadli Zon Sebut Jokowi Kebanyakan Baca Komik Doraemon

Fadli Zon Sebut Jokowi Kebanyakan Baca Komik Doraemon

Politikus partai Gerindra Fadli Zon menyebut Presiden Joko Widodo atau Jokowi terlalu banyak membaca komik Doraemon dan Shinchan. Sehingga dalam setiap kunjungannya, Jokowi selalu membuat kuis tebak nama ikan.

Sindiran Fadli Zon adalah untuk membalas kicauan Politisi PDIP, Budiman Sudjatmiko. @budimandjatmiko, akun Twitter Budiman Sudjatmiko menyebutkan miris dengan orasi politik yang mengutip teori-teori abad ke-20. Budiman Sudjatmiko tak menyebut sosok politisi itu.

Namun di pengujung tahun 2018, Calon Presiden Prabowo Subianto berpidato di Hambalang, Bogor dan meramalkan Indonesia akan krisis energi sampai air.

“Kita mengalami krisis literasi luar biasa sehingga pidato politik mengutip teori-teori usang sisa Abad ke-20 atau serpihan ide filsafat awal Abad ke-20 sudah dianggap keren… Nasib bangsa,” kicau @budimandjatmiko, Selasa (1/1/2019) kemarin, seperti dilansir suara.com.

Tak lama Fadli Zon dalam akun Twitternya, @Fadlizon berkomentar tentang kebiasaan Jokowi yang baca komik.

“Itu gara-gara presidennya miskin literasi akut. Terlalu banyak baca komik Doraemon dan Shinchan. Kalau ketemu warga yang ditanya nama-nama ikan. Nasib bangsa,” kata Fadli Zon.

 

Sumber


Pembangunan Infrastruktur Hanya Etalase Politik atau Pencitraan Semu

Infrastruktur Hanya Etalase Politik atau Pencitraan Semu

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, mengkritik pemerintah yang menurutnya banyak mengklaim keberhasilan pembangunan. Menurutnya, pembangunan pemerintah tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat.

“Pemerintah tak punya road map yang jelas, karena orientasinya menjadikan pembangunan hanya etalase politik. Padahal pembangunan adalah kewajiban bagi pemerintahan manapun, bukan prestasi. Prestasi itu kalau blue print yang direncanakan dapat direalisasikan dan akhirnya menstimulus ekonomi,” kata Fadli di Jakarta, Rabu (2/1).

Fadli menyinggung ‘revolusi mental’ yang digulirkan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo. Justru pemerintah gencar membangun infrastruktur fisik.

Menurutnya, pemerintahan Jokowi hanya mengambil hasil pembangunan dari pemerintahan terdahulu atau hasil dari provinsi dan kabupaten.

“(Misalnya) pembangunan Bandara Kertajati di Majalengka sebenarnya keberhasilan pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah Gubernur Ahmad Heryawan, tapi kini diklaim seolah hasil pemerintah pusat sekarang. Padahal pembangunan itu sudah dimulai pada periode lalu dengan menggunakan sebagian besar dana APBD,” ujarnya.

Selain itu, Fadli juga menyinggung jargon pembangunan Poros Maritim. Pemerintah pernah memperkenalkan tol laut, namun yang dibangun justru tol darat.

“Ini membuat sebagian besar proyek pembangunan menjadi tak realistis, karena memang tak berangkat dari proyeksi kebutuhan dan perencanaan matang. Selain itu, pembangunan gagal menstimulus pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan 7-8 persen,” tegasnya.

“Pembangunan mestinya juga dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan, bukan untuk kepentingan etalase politik atau pencitraan semu. Mahal sekali harga yang harus dibayar oleh rakyat Indonesia nantinya,” imbuh Fadli.

 

Sumber