Penggiat Kebudayaan Pasang Plang Nama ‘Situs’ Lamuri

Penggiat Kebudayaan Pasang Plang Nama 'Situs' Lamuri

Banda Aceh- Sejumlah aktivis kebudayaan, memasang plang nama sebaran nisan tinggalan peradaban Lamuri di Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Selasa (10/2/2015). Mereka menjelaskan, plang nama lokasi itu merupakan sumbangan Partai Politik Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Aceh.

Menurut Haekal Afifa, aktivis dari Institut Peradaban Aceh (IPA) pemasangan palng nama tersebut merupakan bentuk kepedulian mereka agar “situs” Lamuri bisa diketahui lokasinya secara pasti oleh masyarakat. Untuk itu, mereka menyambut baik inisiatif Gerindra yang menyumbang plang yang dibuat dari besi.

“Ini sumbangan Gerindra. Merupakan hasil komunikasi pihak kita dengan mereka. hari ini kita pasang, agar masyarakat umum mengetahui letak tinggalan sejarah indatu. Karena Lamuri merupakan kawasan elit di masa lampau,” Kata haekal.

Menurut Haekal, untuk situs tersebut, masih dibutuhkan beberapa plang lagi. Karena luasnya lokasi bekas peradaban kerajaan Lamuri. “Luasnya lokasi membuat kita membutuhkan beberapa plang lagi. Siapapun yang hendak menyumbang, kita persilahkan. Pihak aktivis siap memfasilitasi,” Tambah Haekal.

Hadir saat pemasangan plang tersebut, Mizwar dari Mapesa, Boy dari Ksatria (organisasi underbow Gerindra-red), IPA dan lainnya.

The Globe Journal yang ikut hadir pada acara tersebut, ikut melihat tinggalan sejarah di lokasi tersebut. Selain pemandangan alam yang eksotis, juga para pemilik nisan, sesuai dengan riwayat yang dinukilkan di bebatuan, adalah orang-orang hebat. Yang sudah ditemukan oleh para aktivis budaya, dua diantaranya adalah milik Sulthan.

Disepanjang jalan menuju ke lokasi nisan, banyak ditemukan pecahan gerabah di permukaan tanah. Menurut arkeolog yang ikut dalam rombongan, kawasan Lamreh memang salah satu lokasi bersejarah yang harus dilindungi oleh Pemerintah Aceh. Namun sayang, beberapa waktu yang lalu pihak Pemkab Aceh Besar pernah berniat hendak menjualnya ke investor yang berencana membangun lapangan golf.

Saat itu para aktivis melawan. Niat tersebut tertunda. Namun sampai sekarang, status tanah tersebut masih milik investor. Karena belum adanya pengembalian uang muka oleh Mukhlis Basyah.


Kenapa Kita Harus Berjuang?

Kenapa Kita Harus Berjuang

“Sahabatku, gerakan kita beranjak dari suatu perasaan kerisauan. Kita risau bahwa kekayaan alam bangsa Indonesia yang berlimpah, karunia Tuhan Yang Maha Esa yang begitu besar bagi bangsa Indonesia, terus menerus diambil namun tidak dipergunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Perjuangan kita tidak ringan karena banyak kekuatan yang ingin kondisi seperti sekarang terus berlanjut. Banyak kekuatan yang menghendaki sistim pemerintahan yang lemah. Banyak kekuatan yang suka dengan pejabat-pejabat yang bisa dibeli. Tujuan utama mereka adalah meraup uang sebanyak-banyaknya – mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi di bawah.

Lantas apa yang harus kita kerjakan? Apa kita hanya bisa terus mengeluh dan mengkritik? Saya rasa tidak. Kita harus memilih untuk berjuang, berjuang dan terus berjuang sampai dengan hembusan nafas kita terakhir. Inilah ajaran nenek moyang kita. Jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah.”


Terus Bergerak dan Makin Siap Untuk Indonesia Raya

Terus Bergerak dan Makin Siap Untuk Indonesia Raya

Nasib bangsa Indonesia, berada di tangan rakyat Indonesia sendiri. Karena itu kehadiran dan keterlibatan kita semua haruslah memiliki tujuan memperbaiki kondisi seluruh rakyat Indonesia.

Keinginan kita adalah melihat bangsa Indonesia kuat dan sejahtera. Kita harus jalankan UUD 45 Pasal 33, babat habis korupsi dan tutup kebocoran kekayaan negara ke pihak asing. Salam Indonesia Raya.


Ir.A.Yani Muluk, Msi Perintis Gerindra di Bumi Anoa


Foto : Alfian Kartim

Oleh: Agustaman

Ketika diminta membangun Partai Gerindra di Sulawesi Tenggara, A. Yani Muluk masih tercatat sebagai anggota dewan di Provinsi Sultra mewakili partai berlambang Pohon Beringin. Karena sosok Prabowo Subianto, ia akhirnya merintis berdirinya Partai Gerindra di Bumi Anoa.

Hujan yang kerap turun membasahi Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada medio Juni 2012, nampaknya tak menjadi halangan bagi Ir. A. Yani Muluk, M.Si., dan kawan-kawan mengunjungi warung kopi Hj. Salmah. Kedai kopi yang terletak di ujung jalan Syekh Yusuf ini memang kerap menjadi langganan Yani dan kawan-kawan guna menikmati secangkir kopi, sembari berdiskusi informal mulai dari soal negara sampai bisnis.

“Tak hanya kami, warung kopi ini juga sering jadi tempat kongkow para aktifis partai politik, LSM, mahasiswa, pengusaha, pejabat dan masyarakat umum,” papar Yani membuka pembicaraan dengan Tabloid Gema Indonesia Raya. “Di sinilah, kami, beberapa perintis Partai Gerindra Sultra sering mengadakan pertemuan, membahas apa yang bisa dan akan kami lakukan untuk partai yang terbilang baru waktu itu, tahun 2008,” sambungnya.

Yani agaknya ingin menunjukkan beberapa tempat di Kota Kendari yang menjadi bagian dari sejarah Gerindra Sultra. “Tak cuma kedai kopi ini, ada juga tempat lain yang kami pakai untuk memulai aktifitas Gerindra Sultra. Kami pernah sewa ruang di sebuah hotel sebagai kantor awal kami selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya punya kantor sendiri yang kami beri nama Kantornya Gerindra,” kata Ketua DPD Gerindra Sultra ini.

Pikiran insinyur sipil ini kembali melayang ke masa-masa ketika Gerindra belum dideklarasikan. Ketika itu, Yani masih duduk sebagai anggota dewan dari parpol berlambang pohon beringin. Sudah tiga periode Yani menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Sultra. Bahkan, ketika pertama kali duduk di kursi dewan, Yani terbilang anggota termuda saat itu.

“Suatu hari saya diundang ke Jakarta, bertemu dengan para deklarator Gerindra, termasuk Pak Prabowo Subianto. Mereka tanya kesiapan saya membangun Gerindra di Sultra dan meninggalkan partai saya sebelumnya. Saya jawab siap,” cerita pemegang master ekonomi dari Universitas Negeri Haluoleo Kendari ini.

Apa yang membuat Yani mengiyakan permintaan itu? “Sosok Prabowo Subianto sebagai ikon Partai Gerindra menjadi salah satu alasan saya bergabung dan menjadi pionir Gerindra di Sultra.Waktu itu Prabowo masih tercatat sebagai fungsionaris partai besar. Bila setelah Gerindra dideklarasikan, beliau keluar dari partai itu, saya juga akan megikuti jejaknya. Terbukti, setelah Gerindra berdiri, Prabowo keluar dari partai sebelumnya, saya pun demikian,” ujar pria kelahiran Makassar tahun 1966.

Diakui Yani, bukan hal mudah merintis keberadaan Gerindra di Bumi Anoa. Apalagi sebagai partai baru, Gerindra belum banyak dikenal di sana. Keberadaan Gerindra di Sultra juga tak diperhitungkan oleh pimpinan pusat partai di Jakarta. Namun, sebagai putra daerah yang namanya cukup dikenal oleh masyarakat Sultra, khususnya Kendari, Yani pantang menyerah. Segala daya upaya dia kerahkan untuk mengenalkan Gerindra ke masyarakat.

“Saya coba hubungi kerabat, teman-teman terdekat dan masyarakat yang mengenal saya. Lalu bersama-sama kami membangun organisasi, melakukan kegiatan-kegiatan sosial untuk mengenalkan visi dan misi Gerindra. Saya tak punya modal apa-apa, semua dibantu teman-teman yang simpati dengan program Gerindra,” papar putra ke-8 dari A. Muluk Tawang (Alm), mantan Komandan Kodim Kendari pertama.

Tak Sia-sia
Perjuangan pria yang kini sedang menempuh program S3 di Unhalu ini tak sia-sia. Setelah berpindah ke Gerindra dan mengikuti Pemilu Legislatif pada 2009, sebagai caleg Dapil 1 Sultra, Yani memastikan memperoleh jatah kursi ke-10 di daerah pemilihan yang memperebutkan 11 kursi tersebut. Yani meraih suara 4.246 dan ia menjadi satu-satunya wakil Partai Gerindra di DPRD Provinsi Sultra.

Meski begitu, perjuangannya membangun Gerindra di Sultra tak pernah surut. Bersama para pimpinan Gerindra tingkat DPD, DPC, dan PAC, serta sayap-sayap partai seperti PIRA, Satria dan Tidar, ayah empat anak ini terus menyosialisasikan visi-misi dan program-program Gerindra lewat beberapa kegiatan. Misalnya, ketika Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto berkunjung ke Kendari pada 2008 atau 6 bulan setelah Gerindra dideklarasikan, seluruh kader Gerindra Sultra bahu membahu menggelar acara silaturahim dengan mantan Pangkostrad ini di sebuah perkampungan nelayan di sana.

Sebagai Ketua DPP Partai Gerindra Sultra, Yani juga banyak mengirim kader Gerindra ke Hambalang, Bogor. “Para kader muda yang kami ikutkan pelatihan telah kembali ke daerah masing-masing. Pelatihan tersebut guna memberikan pemahaman kepada kader muda tentang tata cara pengelolaan partai dengan baik dan bertujuan untuk memperkuat kredibilitas partai,” tutur suami dari Hariani R. seorang PNS di Kota Kendari.

Ia berharap, para kader muda yang telah mengikuti pelatihan dapat menyosialisasikan pemahaman yang telah didapatnya selama mengikuti pelatihan beberapa hari di Hambalang.

Kini, bersama para kader dan simpatisan Gerindra Sultra, mantan Ketua KNPI Sultra ini menargetkan meraih kursi hingga mencapai satu fraksi di DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten/kota, selain di DPR RI tentunya, pada Pemilu 2014.

Selain itu, ia juga akan segera menindaklanjuti instruksi Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, agar melakukan revisi kepengurusan. “Apakah kita tambah pengurus lama atau kita kurangi anggota pengurus yang tidak aktif, mulai pengurus ditingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga pengurus kelurahan,” tambah Yani. Dengan beberapa strategi tersebut, Yani optimistis, target partainya untuk meraih satu kursi DPR RI, dan meraih kursi satu fraksi di DPRD Provinsi dan kabupaten/kota, akan terwujud.

“Namun, tugas utama yang harus kami wujudkan adalah menjadikan Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia mendatang. Ini bukan tugas ringan, tapi tetap harus dijalankan. Dan, kami, para pengurus, kader dan simpatisan Gerindra Sultra siap membantu mewujudkan cita-cita besar Gerindra tersebut,” tegas Ketua Umum FKPPI Sultra yang juga Ketua Umum POBSI (Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia) Sultra ini.


Fadli Zon : Biola Sang Maestro


Foto : M. Asrian Mirza

Tepat 1 Juni lalu, merupakan hari bahagia bagi Fadli Zon. Saat itulah pengurus Partai Gerindra ini merayakan ulang tahunnya yang ke- 41. Tidak heran bila sejumlah kenalan, aktivis dan juga seniman berdatangan ke Fadli Zon Library di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Selatan, untuk memberi ucapan selamat. Ada yang bernyanyi, membacakan puisi, atau sekadar bercanda. Tak lupa nasi tumpeng, sop buntut dan minuman segar mewarnai acara sederhana, namun meriah itu.

Tapi yang cukup istimewa adalah kehadiran pemian biola Idris Sardi. Idris yang datang menggunakan sarung khasnya dan berpeci memainkan beberapa lagu. Usai memainkan lagu dia menyerahkan biola yang dia mainkan kepada Fadli. “Biola kesayangan saya, saya beli di Amerika tahun 1985,” katanya seraya menyerahkan kepada sohibul hajat. Fadli pun tampak kaget bercampur senang. Dia memerhatikan biola sang maestro setengah tidak percaya.

Rupanya, kado ulang tahun itu akan “dibayar” oleh Fadli dengan menerbitkan sebuah buku perjalanan Idris Sardi dalam khazanah musik di tanah air. “Bukunya sedang saya tulis. Nanti Juli akan diterbitkan, “ janjinya. Sebagian benda koleksi maestro seni ini memang tersimpan di Fadli Zon Library, seperti Piala Citra untuk kategori Peñata Musik Terbaik. Beginilah bila seniman bertemu kolektor benda pusaka. Sama-sama memberi dan sama-sama memberi manfaat. (Iman Firdaus)


3 Pages123