Gerindra Menantang, Laporan Bisa Jadi Bumerang

Jakarta – Laporan tim sukses pasangan cagub DKI Jakarta Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, ke Panwaslu terkait curi start kampanye, ditanggapi tenang Partai Gerindra. Bahkan, partai berlambang kepala burung garuda itu, siap meladeni segala tudingan yang dituduhkan. “Silahkan saja melaporkan, kami akan ladeni,” kata Muhamad Taufik, Ketua DPD Partai Gerindra DKI.

Menurut Taufik, pasangan cagub yang yang diusung partainya tak pernah melakukan curi start kampanye. Kalau pun ada iklan di beberapa media massa, hal tersebut bukan kampanye, melainkan hanya ingin mengenalkan sosok cagub kepada masyarakat. “Selama ini tentu masih ada warga ibu kota yang belum mengenal sosok cagub dan cawagub yang kami usung. Jadi sudah sewajarnya kami sosialisasikan,” ujarnya.

Taufik bahkan menantang, agar tim kampanye Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli melaporkan sejelas-jelasnya kepada Panwaslu dan KPU DKI. “Kami siap untuk menghadapinya. Sebab kami tahu, iklan itu bukanlah sebuah kampanye,” tegasnya. Menurutnya, definisi kampanye adalah kegiatan yang dilakukan pasangan atau tim sukses untuk merekomendasikan dukungan pencoblosan, serta menawarkan visi dan misi kepada masyarakat. Sedangkan iklan yang ditayangkan di sebuah televisi swasta pada Minggu (13/5) merupakan iklannya Prabowo, Dewan Pembina Partai Gerindra, bukan mengiklankan pasangan cagub yang didukung. “Saat itu pasangan cagub yang kami dukung hanya sekadar bintang tamu, yang mengenalkan diri saja,” tuturnya.

Taufik mengatakan, laporan itu, bagian dari ketidakpahaman tim sukses Foke-Nara terhadap aturan kampanye. Juga merupakan bagian kepanikan dan rasa khawatir menghadapi respon publik yang begitu besar dukungannya terhadap cagub yang diusung. “Harusnya semua pihak bersikap tenang dalam menjalani pilkada. Tak perlu terlalu tegang apalagi panik,” ucapnya.

Pengamat Politik Amir Hamzah, menilai laporan tim kampanye Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli merupakan langkah yang kurang tepat. Karena di dalam persaingan yang ketat seperti pilkada ini, tekanan pada pihak lawan seringkali berbalik menguntungkan mereka. Cagub yang tadinya tidak populer, bisa mendapat promosi gratis dan bahkan simpati dari banyak masyarakat jika diperlakukan kurang baik oleh lawannya. “Seharusnya tim sukses Fauzi memikirkan masak-masak sebelum bertindak,” tandasnya.

(jppn.com)


Gerindra: Kalau Mau Fair, Foke Harus Cuti Selama Kampanye

JAKARTA– Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon menyarankan calon gubernur DKI (incumbent) Fauzi Bowo atau Foke untuk mengajukan cuti selama kampanye, dalam pertarungan perebutan kursi DKI I.

Fadli menganggap, hal itu untuk menghindari dugaan yang tidak-tidak.

“Di belahan dunia manapun, semua calon incumbent mengajukan cuti bila kembali ikut dalam pencalonan. Jangan sampai kemudian, cuti tidak diajukan kemudian ada kampanye terselubung yang dilakukan,” kata Fadli Zon, Selasa (15/5/2012).

Selama kampanye, kata Fadli, bila incumbent (Fauzi Bowo), tidak mengajukan cuti akan banyak menimbulkan pertanyaan. Apakah, kegiatan yang dilakukan incumbent, bagian dari kampanye, atau sedang bertugas sebagai gubernur DKI.

“Dan harusnya, selama kampanye incumbent tak perlu memasang spanduk apapun. Dan jangan sampai, spanduk peringatan yang dibuat, memakai dana APBD,” Fadli menegaskan kembali.

Fadli kemudian meminta sikap tegas Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta terhadap calon incumbent Fauzi Bowo yang diperbolehkan beriklan di masa tenang kampanye.

Sementara pasangan calon lain, termasuk pasangan Jokowi-Ahok tidak diperbolehkan.

“Perlu ada aturan tegas kepada semua pasangan calon yang akan maju dalam Pemilukada DKI. Termasuk, kepada incumbent. Dan incumbent seharusnya mengajukan cuti selama kampanye. Jokowi saja cuti sebagai wali kota Solo,” tandasnya.

(tribunnews.com)


Gerindra: Kubu Foke Ketakutan Hadapi Jokowi

JAKARTA – Partai Gerindra sebagai partai pengusung pasangan Jokowi-Ahok bersama PDI Perjuangan, menilai segala tindak-tanduk maupun komentar yang menyerang Jokowi yang dilancarkan kubu pasangan Fauzi ‘Foke’ Bowo-Nachrowi ‘Nara’ Ramli, sebagai bentuk ketakutan kalau Wali Kota Solo itu akan memenangkan pemilukada DKI tahun ini dan mendongkel calon incumbent dari kursi DKI 1.

Menurut Ketua DPD DKI Gerindra, Muhammad Taufik, pihaknya tidak pernah cerewet mengomentari segala aktifitas Foke-Nara dalam mensosialisasikan dirinya ke warga Jakarta, seperti mengumumkan segala keberhasilan calon incumbent tersebut selama menjabat sebagai orang nomor satu di Jakarta.

“Mereka ketakutan karena menganggap Jokowi-Ahok pesaing terberat mereka. Dengan segala upaya, mulailah kami dijelek-jelekkan. Padahal mereka gencar mengumumkan keberhasilan selama lima tahun memimpin Jakarta, kami diam saja,” ujar Taufik, Selasa (15/5/2012) saat ditemui di Media Center Jokowi-Ahok.

Taufik yang juga menjadi Juru Bicara Jokowi-Ahok, turut menyatakan pihaknya sebenarnya sudah mempunyai cara untuk menangkal kampanye negatif maupun black campaign yang ditujukan pada Jokowi-Ahok. Namun menurutnya saat ini tidak perlu digunakan. “Kami belum bertanding, sudah diperhitungkan. Foke memang satu putaran, karena tidak lolos ke putaran kedua,” kata Taufik berseloroh.

Taufik menambahkan, bila mengikuti cara berpikir tim sukses Foke-Nara dalam menilai tayangan iklan, maka semua calon termasuk Foke terhitung melanggar. “Pasang gambar saja melanggar. Itu kalau semuanya mengikuti cara berpikir mereka (timses Foke-Nara),” tandasnya.

(tribunnews.com)


Dinilai Panik, Foke Laporkan Jokowi ke Panwaslu DKI

JAKARTA – Tim advokasi pasangan Fauzi ‘Foke’ Bowo-Nachrowi ‘Nara’ Ramli telah melaporkan pasangan Jokowi-Ahok ke Panwaslu DKI terkait iklan Jokowi-Ahok bersama Prabowo Subianto yang tayang di televisi swasta pada Minggu (13/5/2012) malam. Tindakan tersebut dinilai bentuk kepanikan calon incumbent pada pemilukada DKI tahun ini.

Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hasan Nasbi, mengatakan tim Foke-Nara memang berhak mengadukan pasangan Jokowi-Ahok ke Panwaslu DKI karena memang dibenarkan dalam peraturan.

“Tetapi yang menarik disini adalah mental psikologis dari Foke. Sebagai calon incumbent, Foke seharusnya merasa di atas angin karena memiliki jaringan birokrasi yang tak mungkin ditandingi kandidat manapun. Tetapi tampaknya Foke bersama tim suksesnya berperilaku seperti penantang yang tidak pede,” ujar Hasan, Selasa (15/4/2012) dalam keterangan persnya.

Hasan pun berpendapat, dari segi biaya kampanye, pasangan Foke-Nara yang paling siap. Namun pernyataan yang sering terlontar dari Foke maupun Nara yang sering menyerang kandidat lain, menurut Hasan sebagai bentuk tidak percaya diri pasangan tersebut.

“Biasanya, orang yang merasa tidak percaya diri akan cenderung tampil ofensif. Menyerang dan mencari-mencari kelemahan lawan,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Foke memang kerap menyerang calon lain melalui statement yang dikeluarkannya. Misalnya pada Sabtu (5/5/2012) lalu di hotel Sahid, Foke mengatakan tidak ada tempat untuk baju kotak-kotak di Jakarta. Sedangkan baju kotak-kotak merupakan baju seragam resmi pasangan Jokowi-Ahok.

Kemudian pada Kamis (10/5/2012) di Balai Kota, Foke membandingkan jumlah penduduk miskin di Jakarta dengan Solo dan Sumatera Selatan.

“Di Sumsel penduduk miskinnya 13,95 persen dari total penduduknya. Di Solo pada 2011 kemarin sampai 14 persen dari total penduduk. Provinsi mana yang Gubernurnya mau jadi Gubernur di Jakarta, berapa angka kemiskinannya? Walikota yang juga mau jadi Gubernur, angka penduduk miskinnya juga masih tinggi,” kata pria berkumis tersebut.

(tribunnews.com)


Gerindra Protes Penurunan Baliho

Jakarta – calon gubernur yang diusung Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), terkena penertiban oleh Satpol PP DKI Jakarta. Padahal, baliho tersebut, terpasang di Kantor Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Gerindra Jakarta Utara. Kontan, hal ini membuat pengurus partai berlambang kepala burung garuda itu geram dan melakukan protes.

“Kami memprotes penertiban baliho karena baliho tersebut terpasang di kantor DPC. Kalau baliho di pinggir jalan yang ditertibkan, kami tak akan protes,” kata Muhamad Taufik, Ketua DPD Gerindra DKI, Kamis (10/5).

Menurut Taufik, Gerindra merasa keberatan atas tindakan satpol PP yang melakukan penertiban di kantor DPC Gerindra Jakut. “Kami akan kirim surat keberatan kepada Satpol PP DKI, walikota Jakut, dan pihak terkait lainnya untuk protes keras,” ujarnya.

Kata Taufik, kejadian dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan Satpol PP terjadi, Kamis (10/5) pagi. Dalam kaitan itu, Satpol PP berniat mencopot spanduk-spanduk yang dipasang oleh timses cagub Jokowi-Ahok yang terpampang di gedung kantor DPC Partai Gerindra Jakarta Utara. “Kami anggap ini sebagai pelanggaran hukum. Malah bisa dikategorikan tindak pidana,” katanya.

Untuk mencegah kejadian serupa, partainya siap menggalang pertemuan dengan parpol-parpol peserta pemilukada lainnya. “Kami anggap ini sangat penting bagi pendidikan politik warga DKI,” bebernya.

(jpnn.com)


76 Pages« First...10...747576