Popularitas Jokowi dan Ahok Terus Menanjak

Jakarta – Hasil survei menunjukkan popularitas (elektabilitas) calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terus bertambah.

Ketika hadir dalam acara diskusi ”Jakarta Baru: Kenapa Harus Jokowi-Ahok?” di Waroeng Solo, Jakarta, Minggu 22 April 2012, calon gubernur DKI Jakarta dari Partai PDI Perjuangan dan Partai Gerindra, Joko Widodo menyatakan optimistis akan mengungguli calon incumbent Fauzi Bowo. Optimisme itu muncul setelah melihat berbagai hasil survei yang menempatkan posisi pasangan Jokowi Widodo – Basuki ”Ahok” Tjahaja Purnama yang terus menempel ketat pasangan Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli.

Beberapa lembaga survei yang telah mempublikasikan hasilnya menunjukkan tingkat popularitas maupun elektabilitas Joko Widodo – Ahok terus menanjak. Berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), pasangan Fauzi ”Foke” Bowo – Nachrowi Ramli (Nara) mendapat dukungan 49,1%. Di posisi kedua pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama mendapat 14,4% suara, disusul pasangan Hidayat Nur Wahid – Didik Rachbini dengan 8,3% suara. Posisi berikutnya, berturut-turut: Faisal Basri – Biem Benjamin (5,8%), Alex Noerdin – Nono Sampono (3,9%) dan Hendardji Soepandji – A Riza  Patria (1,2%).

Berdasarkan survei yang dilakukan LSI sejak  26 Maret hingga 1 April itu, kesukaan warga terhadap sosok Jokowi – Ahok menyentuh angka 75%. Hanya berbeda tipis dengan pasangan Foke – Nara yang mencapai 79,1%. Bahkan jika Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012 harus berlangsung dua putaran, pasangan Jokowi – Ahok merupakan kandidat kuat yang akan terus melaju. Apalagi, langkah-langkah yang dijalankan Jokowi saat ini mampu mengambil hati warga Jakarta. ”Semua bisa saja terjadi. Apalagi jika ada terobosan dahsyat yang dilakukannya,” kata Toto Izzul Fatah, peneliti LSI, ketika menyampaikan hasil survei pada 8 April lalu.

Hasil survei Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) tak jauh beda dengan LSI. Puskaptis merilis hasil survei calon gubernur DKI Jakarta yang dilakukan sejak 2 hingga 7 April 2012 terhadap 1.250 responden yang tersebar di DKI Jakarta. Hasilnya, pasangan calon incumbent Foke – Nara berada di urutan pertama dengan 47,22%. Di posisi kedua adalah pasangan Jokowi – Ahok dengan memperoleh 15,16%. Disusul posisi ketiga, yaitu pasangan Hidayat Nur Wahid – Didik Rachbini dengan 10,28%.

Sedangkan di posisi keempat adalah pasangan independen Faisal Basri – Biem Benjamin dengan 3,17%. Sementara di posisi kelima diperoleh pasangan Alex Noerdin – Nono Sampono dengan 2,3%. Posisi paling buncit ditempati pasangan independen Hendardji Supandji – A. Riza Patria dengan 1,55%. Terdapat 20,23% responden yang mengaku tidak tahu atau tidak menjawab.

Puskaptis menyatakan bahwa terdapat potensi dua putaran dalam penyelenggaraan Pemilukada DKI Jakarta. ”Melihat tren elektablitias ini, ada potensi dua putaran. Jika terjadi dua putaran, akan jadi persaingan sengit,” kata Direktur Puskaptis, Husin Yasin, ketika menyampaikan hasil survei di Jakarta, Minggu 15 April 2012. Puskaptis memperkirakan, jika terjadi dua putaran, calon incumbent akan berhadapan dengan pasangan Jokowi – Ahok atau Hidayat Nur Wahid – Didik Rachbini.

Pengamat politik dan bakal calon dalam Pemilukada DKI Jakarta mencurigai hasil survei yang dilakukan LSI dan Puskaptis. Ada yang janggal dalam hasil kedua survei itu sehingga menguntungkan salah satu pihak tertentu. Hasil 47% bagi incumbent sangat distorsif. Pasalnya, elektabilitas incumbent sebelumnya hanya mentok di 30-an persen. Dikhawatirkan polling itu sebagai alat strategi untuk menggiring opini.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Eep Saefullah Fatah, mengatakan survei sering dijadikan alat oleh calon yang hendak melaju di Pemilukada. ”Seringkali survei ini digunakan untuk memobilisasi psikis pemilih,” kata Eep dalam diskusi ”Jakarta Baru: Kenapa Harus Jokowi – Ahok?”, di Jakarta, Minggu 22 April 2012.

Caranya, dengan memainkan margin of error dalam statistik survei tersebut. Ini menyebabkan perbedaan hasil antara satu calon dengan calon lainnya terlihat cukup jauh. Jika ada lembaga yang menyampaikan hasil survei dengan mengatakan bahwa lembaganya independen, maka sebaiknya jangan mudah percaya. ”Bohong kalau bilang independen,” kata Eep.

Bila calon gubernur lain menanggapi negatif hasil survei LSI dan Puskaptis karena dianggap kontroversial, calon wakil gubernur DKI Jakarta Basuki ”Ahok” Tjahaja Purnama justru menyambut positif. ”Kami harus berterimakasih kepada LSI yang telah menempatkan kami pada urutan kedua. Sebelumnya, kami berada di urutan keempat,” kata mantan Bupati Belitung Timur.

Survei itu, lanjut Ahok, akan menjadi titik penting bagi orang-orang yang tidak menyukai kepemimpinan Fauzi Bowo saat ini. Ia yakin, banyak warga Jakarta yang akan memberikan dukungan kepada pasangan Jokowi – Ahok. ”Kami menjual rekam jejak. Orang-orang tidak mau dengan visi yang muluk,” kata Ahok yang dicalonkan sebagai wakil gubernur dari Partai Gerindra ini.

Terus bertambah

Lembaga lain yang melansir hasil survei terhadap peluang enam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pemilukada DKI Jakarta 2012 adalah The Cyrus Network. Survei dilakukan di seluruh Kotamadya Jakarta, kecuali Kepulauan Seribu, dengan responden random sebanyak 1000 orang pada 8 – 16 April 2012.

Hasilnya, apabila Pemilukada DKI Jakarta digelar pada April, maka pasangan Foke – Nara mendapat 42,2%. Sedangkan posisi kedua ditempati oleh pasangan Jokowi – Ahok dengan 31,8% atau terpaut 11% dari Foke – Nara. Sedangkan elektabilitas pasangan calon gubernur dan wakil gubernur lainnya kurang dari 10%. Hidayat Nurwahid – Didik Rachbini mendapatkan suara 7,9%, Faisal Basri – Biem Benyamin memperoleh 4,4%, Alex Noerdin – Nono Sampono 2,7%, dan Hendardji Supandji – A. Riza Patria sebanyak 2,2%.

Menurut Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hasan Nasbi, pasangan Jokowi – Ahok mendapatkan popularitasnya di Jakarta dengan hanya ”berkampanye” selama 5 bulan. ”Jika membandingkan hasil perolehan 5 tahun Fauzi Bowo dengan 5 bulan Joko Widodo, maka selisih angka sebesar 11% ini justru akan menjadi momok menakutkan bagi incumbent,” katanya ketika melansir hasil survei di Pisa Cafe Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 18 April 2012.

Hasan menuturkan, akselerasi dukungan terhadap Jokowi – Ahok terhitung cepat. Ia memprediksi bahwa dalam waktu 3 bulan ke depan, popularitas Jokowi – Ahok akan terus bertambah.

Rupanya, popularitas dan elektabilitas calon gubernur DKI Jakarta dari PDI Perjuangan dan Partai Gerindra, Joko Widodo selalu dipantau banyak pihak. Tak terkecuali pantauan dari Partai PDI Perjuangan maupun Partai Gerindra.

Joko Widodo mengakui, dalam kunjungan singkatnya di Solo pada Kamis, 19 April 2012, Megawati Soekarnoputri, orang nomor satu di partai berlambang banteng tersebut menanyakan hasil survei terakhir pasangan Jokowi – Ahok ini. ”Tadi di mobil, bu Mega tanya bagaimana hasil survei saya yang terakhir. Ya, saya laporkan semuanya kepada bu Mega,” kata Jokowi kepada pers di sela mendampingi Megawati makan malam di Solo, Jawa Tengah, Kamis 19 April 2012.

Kepada Megawati, Jokowi memaparkan grafik peningkatan hasil survei. ”Saya laporkan semuanya. Awal Desember lalu hasil surveinya 6%, terus naik 17%, dan sekarang sudah 33%,” kata Jokowi. BS

(partaigerindra.or.id)


Gerindra TTS Dukung Eston Jadi Cagub NTT

NTT – Wakil Gubernur NTT aktif, Esthon Foenay kembali mendapat dukungan untuk maju dalam pesta demokrasi pemilihan gubernur dan wakil gubernur NTT periode berikut. Walau Pemilukada provinsi baru akan dimulai tahun 2013 mendatang, namun beberapa kalangan menyatakan siap mendukung Esthon Foenay untuk maju sebagai Cagub NTT periode berikut.

Salah satu dukungan datang dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra TTS yang diketuai Gordon Banoet. Kepada Timor Express, Rabu (23/5), Gordon mengatakan, dalam waktu dekat, Partai Gerindra TTS akan menggelar pelantikan badan pengurus serta musyawarah.

Dan salah satu agendanya adalah menentukan sikap terhadap wacana pencalonan Esthon Foenay. Terkait alasan dukungan tersebut, Gordon mengatakan, keputusan untuk mendukung salah satu figur tidak lepas dari kesepakatan bersama dalam tubuh partai.

Sehingga sebagai kader partai, pihaknya mendukung penuh keputusan partai. Dan, dukungan DPC partai Gerindra TTS lebih berat kepada Esthon Foenay. “Kita baru akan nyatakan pada tanggal 2 Juni mendatang. Tapi dukungan kita memang lebih kepada Esthon Foenay,”imbuhnya.

(timorexpress)


Gerindra Siapkan Kejutan di Deklarasi Rudi-Nawir

MAKASSAR – Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerindra Sulsel menjanjikan sebuah kejutan saat deklarasi pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel Andi Rudiyanto Asapa-Andi Nawir Pasinringi nanti.

Sekretaris DPD Gerindra Sulsel, Anwar Wahab mengatakan demi mematangkan kejutan saat deklarasi nanti dan atas instruksi Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto, maka pelaksanaan deklarasi diundur dari 26 Mei 2012 hingga 10 Juni 2012.

“Pokoknya akan ada kejutan saat deklarasi pasangan sekaligus deklarasi partai pengusung,” kata Anwar via telepon selulernya, Rabu (23/5/2012).

Duet Rudi-Nawir dipastikan bakal mengantongi dukungan 1 kursi dari Partai Gerindra di DPRD Sulsel. Namun demikian, Anwar memastikan tetap optimistis dapat meraih dukungan dari sejumlah partai politik di Pilgub hingga mencukupi persyaratan minimal.

“Itulah kejutannya, partai mana saja yang akan mengusung pasangan Rudi-Nawir nanti bisa ditau saat deklarasi, tidak etis kalau saya yang umumkan, biar partai masing-masing yang deklarasikan,” ujar Anwar.

(tribunnews)


PDIP dan Gerindra Laporkan Dinas Dukcapil

PARTAI Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerindra, resmi melaporkan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, Purba Hutapea ke Bareskrim Polri, kemarin (23/5). Dalam laporan nomor LP/407/V/2012/Bareskrim, disebutkan Purba telah melakukan rekayasa dalam pendataan pemilih tetap Pilkada DKI.

Wakil Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi mengatakan, ada dugaan pemalsuan daftar pemilih fiktif. Untuk itu, demi menegakkan keadilan, pihaknya melakukan pelaporan ke Mabes Polri.

“Sebab, hal ini berkaitan dengan tindak pidana umum, pasal 263, pemalsuan dokumen,” kata Prasetyo, saat ditemui di Gedung Bareskrim, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Menurut Prasetyo, data fiktif dalam Pilkada DKI adalah kejahatan yang luar biasa. Karena merugikan pihak-pihak yang hendak bertarung dalam pilkada. “Kami mengambil langkah hukum ini sebagai bentuk pencegahan dan menyelamatkan Pilkada DKI itu sendiri,” ujarnya.

Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta M Taufik berharap, polisi segera menindaklanjuti laporan ini. Pihak-pihak terkait harus diperiksa, salah satunya Kepala Dinas Dukcapil DKI. “Ini ada daftar pemilih fiktif jumlahnya ribuan dan ini suatu bentuk kejahatan demokrasi. Maka kami laporkan ke Bareskrim,” ungkapnya.

Hal tersebut juga telah diberikan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena harus ada yang bertanggung jawab. “Kalau cuma satu sampai tiga (calon pemilih), kami bisa maklumi sebagai “human error”. Tapi ini ribuan, ini kan sistem. Karena itu suatu bentuk kejahatan, harus ada yang bertanggung jawab,” kata Taufik.

Total daftar pemilih yang bermasalah yang ditemukan tim sukses Jokowi-Ahok sekitar 900 ribu. Tim sukses calon gubernur dan wakil gubernur Jokowi-Ahok resmi melaporkan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, Purba Hutapea, ke Bareskrim Mabes Polri dengan nomor laporan LP/407/V/2012/Bareskrim. Purba diduga melakukan rekayasa dalam pendataan pemilih tetap Pilkada DKI. (wok/ibl/pes)

(jpnn)

DPT Kacau, Timses Jokowi-Ahok Lapor Bareskrim

Tim sukses calon gubernur dan wakil gubernur Joko Widodo dan Ahok mendatangi Bareskrim Mabes Polri.

Maksud kedatangan mereka untuk melaporkan karut marut Daftar Pemilih Tetap (DPT) jelang pilkada DKI pada 11 Juli 2012 mendatang.

“NIK ganda, ada tiga, ada dua. Ini suatu bentuk kejahatan demokrasi makanya kita laporkan ke Bareskrim,” kata Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta, Muhammad Taufik, sebelum memasuki Gedung Bareskrim Mabes Polri, Rabu 23 Mei 2012.

Menurut Taufik, NIK ganda merata di semua wilayah DKI Jakarta. Pihaknya telah menemukan ribuan NIK ganda. Juga dari beberapa teman lainnya. “Totalnya hampir 900 ribu, setiap pilkada kayak gini terus,” Taufik heran.

Dia mengklaim bahwa pihaknya telah memberikan berkas kekurangan DPT itu ke Komisi Pemilihan Umum. Menurut dia, persoalan tersebut harus ada yang bertanggung jawab.

“Ini bukan human error, kalau cuma satu sampai tiga kita bisa maklumi sebagai human error. Kalau ribuan, ini kan sistem. Karena itu sesuatu bentuk kejahatan. Jangan dibiarkan begitu saja,” ucapnya.

Oleh karena itu, dalam laporan ke Bareskrim ini, mereka akan melaporkan Kepala Dukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil). Taufik menilai institusi tersebut adalah pihak yang paling bertanggung jawab.

Sebelumnya, sejumlah partai politik mempersoalkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilukada DKI Jakarta. Mereka menuntut KPUD DKI Jakarta membereskan data yang dinilai bermasalah itu.

Dalam sebuah diskusi, Jumat 18 Mei 2012, perwakilan Gerindra, PKS, PDI Perjuangan, PPP dan Golkar, menyatakan kesamaan sikap mereka atas ketidakberesan DPT tersebut. Padahal, pemilukada DKI akan digelar dua bulan mendatang.

Soal DPT ganda ini, Sabtu 19 Mei lalu, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta dengan tegas membantahnya.

“Sudah jelas ada data, nama, alamat, dan nomor induk kependudukan (NIK),” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, Purba Hutapea. (umi)

(VivaNews)


75 Pages« First...10...717273...Last »