Seminar kewirausahaan

Berikut adalah dokumentasi saat kegiatan seminar tanggal 2 november 2013 pukul 10.00 WIB di STAI Al-Mukhlisin Ciseeng.
narasumber yaitu Hj. Juliana Wahid, SE. M.pd dengan tema

Meningkatkan Jiwa Kewirausahaan dengan Memperkuat Ketermpilan Diri dalam Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Anak Bangsa.

seminar kewirausahaan 1


Perang Kemerdekaan Jilid Kedua

Pemilu 2014

Pemilu 2014 yang tinggal beberapa bulan lagi merupakan Perang Kemerdekaan Jilid Kedua. Oleh karena itu seluruh kader Gerindra harus militan dan kuat serta bekerja keras untuk mewujudkan Indonesia Raya. Kader Gerindra harus terus beraksi nyata dan turun langsung ke masyarakat dengan mengamalkan Tri Dharma Kader Gerindra: belajar dari rakyat, berjuang untuk rakyat, berkorban demi rakyat.

Prabowo Subianto: “Rakyat sudah dekat dan mengarah pada kita. Giliran kita yang mendekat kepada rakyat. Saya instrusikan semua kader untuk turun ke rakyat. Ketok pintu tiap hari, cari anggota baru, Kalau bisa tambah 6 orang tiap bulan, kalau tidak bisa 5, tidak bisa juga 4 dan jika tidak bisa cukup 2 anggota baru.”

Sudah siapkah sahabat untuk menghadapi Perang Kemerdekaan Jilid Kedua?


Pentingnya Inklusi Ekonomi Pancasila dan Produktivitas Berkelanjutan Dalam Sistem Pendidikan Nasional

Jakarta, (22/9/2013). Pukul 10:00

Ini

Prof.Ir. Suhardi menyampaikan kuliah umum dalam acara penyambutan mahasiswa baru di STKIP Kusuma Bangsa dengan tema “Wajah Pendidikan Indonesia”. Dalam kesempatan ini, Prof. Ir. Suhardi di depan 1.300 mahasiswa-mahasiswi baru STKIP Kusuma Bangsa menyampaikan orasi mengenai pentingnya perubahan kurikulum pendidikan Indonesia yang berbasis kapitalistik dan konsumerisme menuju pembangunan ekonomi yang berbasis produktivitas berkelanjutan (sustainable) dan sadar akan pentingnya ekonomi Pancasila.

Ini 2Prof. Suhardi menyampaikan bagaimana salah satu penyebab rusaknya alam serta eksploitasi besar-besaran sumber daya alam Indonesia tanpa berimplikasi langsung dengan peningkatan kesejahteraan rakyat adalah kuatnya paradigma ekonomi kapitalistik yang asal dicomot dari budaya Barat yang menonjolkan pandangan-pandangan kepentingan pribadi dan prinsip profit maximizing. Prof. Ir. Suhardi kemudian menyampaikan pentingnya pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer ilmu namun juga sebagai media utama pembentukan karakter bangsa. “Oleh karenanya, unsur-unsur ekonomi Pancasila yang berlandaskan keadilan sosial, kemandirian ekonomi, dan moralitas harus dibentuk sejak dini sebagai upaya pembangunan ekonomi khas Indonesia”, papar beliau. Beliau mencontohkan bagaimana kegiatan produksi berkelanjutan dapat dimulai dari diri sendiri dengan memulai menanam pohon dan mengkonsumsi bahan pangan alternatif sebagai upaya untuk memulai usaha ketahanan pangan nasional.


Prabowo: Pangan Adalah Masalah Hidup-Mati Suatu Bangsa


“Bapak saya itu memang dari dulu adalah penganut ekonomi kerakyatan” begitu sebut Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam wawancara eksklusif dengan tabloid “The Politic”.

Prabowo menjelaskan di dunia ini terdapat dua mazhab ekonomi, mazhab kapitalisme dan juga ada mazhab sosialisme, namun ada juga yang ingin mengambil yang terbaik dari keduanya. “Inilah yang disebut oleh Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Bapak saya, Ekonomi Kerakyatan” jelas Prabowo.

“Bapak saya dalam meja makan selalu cerita, istilah beliau adalah Ekonomi Campuran, yang terbaik dari kapitalis dan yang terbaik dari sosialis ini yang kita pakai” lanjut Prabowo menjelaskan alasan beliau memperjuangkan ekonomi kerakyatan.


Prabowo Subianto: Gajah Mada Abad ke-21? Akankah Sejarah Berulang?

Prabowo-Subianto-Adalah-Gajah-Mada-Abad-ke-21

Ada fakta menarik mengenai hubungan antara Gajah Mada di zaman Majapahit dengan Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Setelah penulis amati Prabowo Subianto memiliki banyak kesamaan dengan Gajah Mada versi Langit Kresna Hariadi (Penulis buku Gajah Mada).

Kesamaan pertama yaitu sama-sama memiliki rasa nasionalisme yang sangat tinggi, selanjutnya sama-sama berasal dari pasukan khusus dan pasukan tempur bagian telik sandi (intelejen). Kesamaan ketiga adalah karir militer mereka jatuh ditandai oleh peristiwa huru-hara. Bagian yang menarik, diceritakan kemudian Gajah Mada kembali ke pemerintahan dan menjabat Mahapatih (kurang lebih sama dengan jabatan dengan presiden atau perdana menteri) dan menjadi Maha Patih terbesar dalam sejarah Majapahit, yang mempersatukan Nusantara, yang membawa Majapahit memasuki zaman keemasannya.

Apakah kemudian Prabowo Subianto akan mengikuti jejak Gajah Mada dengan terpilih menjadi Presiden tahun 2014 dan bakal menjadi Presiden terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia? (Saursepuh92)

Gajah Mada Abad ke-21


34 Pages« First...91011...20...Last »