Rachel Maryam : Saya dan Pencalegan

Seperti yang sudah teman-teman ketahui kalau saya diajukan oleh Partai Gerindra sebagai caleg di pemilu mendatang. Dan ini terus terang mendatangkan banyak cibiran dari banyak orang… sebetulnya hal ini sudah bisa saya prediksikan sebelumnya, mengingat fenomena artis yang terjun ke dunia politik saat ini.

Bisa saya bayangkan pasti mereka berpikir, “gila! mau dibawa kemana ini negara kalau diwakili oleh kaum-kaum yang hanya modal tampang doang!”. Dan komentar itu pun pernah terlontar dari mulut saya sebelum mendapatkan pencerahan untuk ingin ikut mengambil sebuah tindakan kongkrit untuk negara ini dan tidak hanya mengeluarkan keluhan saja.

Blog ini, bukan untuk pembelaan diri. Blog ini saya tulis sekedar untuk berbagi cerita karena banyak sekali yang bertanya-tanya tentang keterlibatan saya di dunia politik saat ini. Alasan saya untuk menerima tawaran menjadi caleg, selain ingin ikut memberikan ide, pemikiran, dan warna baru di legislatif (dan itu tentunya sudah terdengar sangat klise sekali di telinga anda), menurut saya, tidak ada salahnya kalau ada perwakilan seniman yang duduk di legislatif.

Tolong koreksi saya apabila pemikiran saya terlalu naif, tapi menurut cara berfikir saya yang sederhana rumusnya jadi… legislatif=perwakilan rakyat  dan   rakyat=petani, pedagang, pengajar, seniman, dan lain sebagainya. Jadi, lagi-lagi menurut pemikiran saya, sah-sah saja kok kalau pekerja seni duduk di legislatif dan menangani komisi yang berkaitan dengan pendidikan maupun pengalaman profesionalnya.

Tapi yah, itu kan hanya pendapat saya. Oleh karena itu mudah-mudahan tulisan saya ini bisa menjadi awal forum diskusi. Saya sangat terbuka untuk semua saran, dukungan, maupun kritikan. Insya Allah, semua comment yang masuk akan saya tampilkan (tapi kalau bisa jangan ada kata-kata yang kasar yaa..hehehe…).  Thanks.


Gerindra Usung Putri Bung Hatta

Pertarungan antar tokoh dalam pemilu legislatif di Jakarta benar-benar sengit. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) memasang Halida Hatta, yang tak lain adik kandung Meneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta.

“Kita menempatkan Ibu Halida di Jakarta karena dominasi dan pengaruh Bung Hatta di Jakarta cukup tinggi. Jadi kita putuskan beliau dipasang di Jakarta,” ungkap Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Menurut Muzani, selain menyandang nama besar sang ayah, Halida juga dinilai punya kemampuan yang bagus untuk mewakili warga Ibukota.

“Ibu Halida itu sangat pintar dan cerdas. Belum lagi pengalaman organisasi yang memang tinggi, jadi cocok untuk daerah pemilihan DKI Jakarta,” tambah bekas politisi PBR itu.

Saat ini, lanjut Muzani, kader seperti Halida sangat dibutuhkan guna mendongkrak suara Gerindra pada pemilu mendatang. “Untuk vote getter Ibu Halida itu punya tingkat popularitas yang cukup tinggi dibanding kader lain,” ujarnya.

Lebih jauh Muzani mengatakan, putri Bung Hatta ini akan dipasang di dapil II DKI Jakarta, yang meliputi Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Meski di dapil tersebut partai lain juga memasang tokoh-tokoh populer, Muzani tetap yakin partainya bisa meraup seperempat suara pemilih. “Kita tetap optimistis, bisa merebut suara yang signifikan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, sejumlah partai juga memasang tokoh-tokoh populer sebagai caleg di Dapil II Jakarta. PKS misalnya, memasang bekas Wakapolri Adang Daradjatun, dan PMB memasang putri Buya Hamka, Alia Hamka. (berpolitik.com)


Tiga Diva Digaet Gerindra Jadi Jurkam

Tak mau kalah dengan manuver partai lain, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) telah menggaet tiga artis papan atas ( 3 Diva ) yakni Krisdayanti, Titi DJ dan Ruth Sahanaya menjadi juru kampanye (jurkam) Gerindra .

Kepastian digaetnya tiga diva yang disebut-sebut bertarif Rp 2 miliar sekali manggung itu, disampaikan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

“Betul, tiga diva itu jadi jurkam Gerindra. Kita sengaja mengajak mereka karena popularitasnya demikian tinggi dan kebetulan ketiganya bersedia menjadi jurkam,” ungkap Muzani.

Dengan tiga diva ini, Muzani optimistis, partainya bisa meraup suara dari kalangan masyarakat perkotaan, pemilih pemula seperti pelajar dan mahasiswa yang selama ini berpotensi menjadi golput.

“Mereka populer di masyarakat kota dan kelas menengah. Selain itu, para pelajar dan mahasiswa yang suka golput mudah-mudahan bisa tertarik dan memilih Gerindra pada pemilu nanti,” kata Muzani.

Selain itu, sejumlah artis juga telah direkrut menjadi calon legislatif (caleg), yakni, artis dangdut Djaja Miharja, Rachel Mariam, dan Djamal Mirdad, Megi Z dan Mega Mustika.

“Djaja Mirhaja dicalegkan di daeral pemilihan Jawa Barat, Rahel Mariam di Bandung, sedangkan Jamal Mirdad di dapil Jateng,” ungkap bekas politisi PBR ini.

Dipasangnya para seleberitis tersebut, kata Muzani, atas dasar permintaan para pengurus Gerindra daerah serta kecenderungan masyarakat yang lebih memilih figur artis dalam pemilu mendatang.

“Jadi ini bukan sikap latah terhadap fenomena belakangan ini, tetapi murni karena permintaan daerah dan masyarakat di sana,” kilahnya. (berpolitik.com)


Prabowo Subianto resmi jadi anggota Partai GERINDRA

Setelah mengadakan pemikiran yang mendalam, demi untuk memperjuangkan kepentingan kaum tani,    nelayan,   dan buruh,  serta  seluruh rakyat Indonesia,  maka  pada  hari  Sabtu,  12 Juli 2008 , H. Prabowo Subianto  resmi menyatakan dirinya keluar dari Partai Golkar dan bergabung berjuang bersama  partai yang bernomor urut ‘5’,  Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA).
Pernyataan bergabungnya Prabowo, tokoh yang terkenal tegas dan cerdas tersebut disampaikan dihadapan ratusan pengurus DPP, DPD dan DPC Partai Gerindra, saat syukuran lolosnya partai berlambang kepala burung garuda itu menjadi peserta pemilu 2009, di Gunungputri, Bogor.

Bergabungnya jendral berbintang tiga tersebut langsung disambut dengan teriakan ‘hidup Prabowo, hidup Gerindra !!  Tidak hanya membuat pernyataan, Prabowo juga langsung mengisi formulir kartu tanda anggota partai dan mendapatkan nomor anggota  AA.05.000008.07.08. dari DPC Jakarta Selatan. (MAM)


Dinasti Politik, Regenerasi yang Tidak Tepat

Kalangan parpol yang sudah menyiapkan strategi regenerasi penyusunan calon legislatif (caleg) pada pemilu 2009 dari keluarganya sendiri dinilai pengamat politik Arbi Sanit sebagai regenerasi yang tidak tepat. Menurut dia, fenomena ini adalah dinasti politik yang terlalu banyak kelemahan dibanding keuntungannya.

Fenomena yang sedang trend di kalangan para politisi  saat ini adalah tidak sedikit dari mereka yang memasukkan anak atau keluarganya dalam daftar caleg sebagai investasi politik jangka panjang. Sekaligus penerus kiprah mereka di pentas politik nasional.

Antara lain tercatat, Partai Demokrat yang akan mencalonkan Putra SBY, Edi Baskoro sebagai caleg dari daerah pemilihan (Dapil) DKI Jakarta. Demikian halnya, PDIP yang turut mencalonkan putri Megawati, Puan Maharani. Serta Partai Golkar yang tengah menyiapkan generasi lapis kedua dari elitenya, Dave laksono yang merupakan putra Agung Laksono.

Kondisi seperti ini, menurut Arbit Sanit bukan merupakan fenomena baru dalam kancah perpolitikan dunia.

“Dinasti politik itu biasa dalam dunia perpolitikan. Dan itu mengandung banyak kerugian yang melekat di dalamnya,” ujar Arbi saat dihubungi okezone melalui telepon, Kamis (10/7/2008).

Arbi mencontohkan langkah politik George Bush dan JF Kennedy di Amerika, yang sama-sama menerapkan dinasti politik.

“Keuntungannya mereka mempunyai peluang membangun kepemimpinan secara pasti. Dan dalam jangka panjang mereka telah siap dan dipersiapkan,” imbuhnya.

Namun demikian, Arbi menyatakan dinasti politik terlalu banyak pelapukan-pelapukan dalam regenerasinya. Meskipun Arbi mengaku dinasti ini tidak sepenuhnya busuk jika ada dinasti alternatif.

“Jadi yang kemudian berkembang dalam politik itu tidak hanya satu dinasti. Dengan begitu Demokrasi tetap akan bisa berjalan,” katanya lagi.

Secara tegas Arbi menyangkal jika fenomena elit politik sekarang itu dinilai sebagai regenerasi poltik. “Kalau dikatakan regenerasi itu waktunya terlalu pendek, minimal butuh tenggang waktu 25 tahun untuk sebuah regenerasi,” pungkasnya. (okezone.com)