Bertemu Gatot Nurmantyo, Fadli Zon: Gesturnya Beliau Dukung Kita

Gesturnya Beliau Dukung Kita

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon menceritakan foto kebersamaan dengan mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo. Foto tersebut diupload di Instagram pribadi milik Gatot.

“Ngobrol-ngobrol saja, kebetulan ketemu,” kata Fadli, di Kompleks Parlemen Senayan, Jumat (28/12/2018).

Wakil Ketua DPR itu mengaku pertemuan itu tidak direncanakan. Namun, Fadli mengatakan, dalam pertemuan itu banyak hal yang dibahas, termasuk Pilpres 2019.

“Mudah-mudahan saja beliau bisa mendukung. Saya sih kalau melihat hatinya, kalau merasakan gesturnya beliau mendukung kita. Tapi nanti kan tergantung kepada beliau untuk menentukan sikapnya,” ujar dia.

Fadli optimistis Gatot akan mendukung Prabowo Subianto. Dia yakin sikap politik Gatot itu segera diumumkan ke publik. “Mudah-mudahan insyaallah,” ucap dia.

Foto Fadli Zon dengan Gatot diunggah pada Minggu (23/12/2018) di Instagram Gatot. “Hari Sabtu 22 Desember 2018. Alhamdulillah saya berkesempatan ziarah ke makam orangtua dan mertua dalam rangka akan melaksanakan ibadah umrah 24 Desember. Dan saat kembali bertemu dengan Wakil Ketua DPR @fadlizon,” tulis Gatot

 

Sumber


Fadli Zon Sebut Penentang Amien Rais Parasit Demokrasi

Fadli Zon Sebut Penentang Amien Rais Parasit Demokrasi

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon turut berkomentar terkait adanya desakan mundur terhadap Amien Rais dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) oleh Goenawan Mohamad Cs. Fadli menilai para pendiri PAN yang meminta Amien Rais mundur adalah parasit bagi demokrasi.

“Jadi mereka ini ya parasit bagi demokrasi gitu. Kalau mau kan terjun dong, bertarung dong di gelanggang, di dalam partai politiknya itu ya, kalau memang merasa bagian dari partai politik itu,” kata Fadli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat, 28 Desember 2018.
Meurut pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPR ini, deretan orang yang meminta Amien Rais mundur ini adalah orang-orang yang enggan bersusah payah dalam dunia politik. Sehingga langsung ingin berpihak pada penguasa.

“Dan mereka itu saya kira bagian dari satu pendukung petahana untuk memecah belah partai yang mendukung Pak Prabowo. Jadi tidak lain dan tidak lebih daripada itu,” tutur Fadli.

Fadli menilai, tidak etis jika Goenawan Mohamad dan rekan-rekannya mendesak Amien mundur. Sebab, kata dia, Goenawan tidak lagi aktif di internal PAN.

“Saya kira orang yang sudah mundur, trus kemudian itu tidak etis ya. Saya kira apa yang dilakukan Pak Amien rais, Pak Amien Rais orang yang konsisten di dalam perjuangannya termasuk dalam partainya di PAN itu orang yang konsisten dan selalu berada di jalur keputusan-keputusan partainya,” ucap Fadli.

Diketahui, lima pendiri PAN yang disebut Goenawan Mohamad cs meminta Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais mundur dari politik. Kelima orang yang dia maksud ialah sastrawan Goenawan Mohamad, mantan Penasihat Wakil Presiden Abdillah Toha, mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Albert Hasibuan, tokoh budaya Toety Heraty, dan eks aktivis Zumrotin.
Menurut mereka, Amien Rais telah menyimpang dari prinsip PAN.

“Kami mendapatkan kesan kuat bahwa Amien Rais sejak mengundurkan diri sebagai ketua umum PAN sampai sekarang, baik secara pribadi maupun mengatasnamakan PAN seringkali melakukan kiprah dan manuver politik yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip PAN,” kata Goenawan cs lewat pernyataan tertulis, Rabu, 26 Desember 2018.

Sumber

Warga Madura Dukung Prabowo, Gerindra : La Nyala Ralat Janji Potong Leher

La Nyala Ralat Janji Potong Leher

Anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra, Andre Rosiade mengatakan, bahwa pihaknya makin yakin dan mampu memenangkan pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno di Madura.

Pendapatnya ini, menurut Andre, bukan tanpa alasan. Selain banyaknya relawan yang sudah mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo-Sandi, pernyataan La Nyalla Mattalitti yang sebelumnya sesumbar akan memotong leher jika Prabowo-Sandi menang di Madura namun akhirnya diralat juga membuatnya semakin yakin.

“Awalnya La Nyalla sombong sampai nantang warga Madura potong lehernya. Sekarang dia ralat. Mungkin dia juga semakin tahu bahwa Prabowo-Sandi banyak dapat dukungan di Madura,” ujar Andre Rosiade dalam keterangannya, (26/12/18).

Andre juga mengatakan bahwa pihaknya merasa beruntung La Nyalla sudah tidak ada lagi di kubunya. Menurut Andre, sikap yang ditunjukan La Nyala selama ini sangat kontra produktif dengan apa yang menjadi cita-cita luhur Prabowo.

“Alhamdulillah, kami bersyukur manusia macam La Nyala sudah tidak berada di tempat kami. Dia sendiri yang mengaku selama ini menebar fitnah. Dan sikap semacam itu bukan bagian dari tujuan kami membangun negeri,” kata Andre.

Tak hanya itu, Andre juga juga beranggapan bahwa siapa pun yang didukung oleh La Nyala akan kalah dalam hal apa pun. Karena dukungannya malah akan berdampak buruk kepada yang didukung.

“Energi yang dipancarkan La Nyala ini sangat negatif. Dan itulah yang kami syukuri setelah dia sudah tidak ada di sini. La Nyala bawa sial. Yang didukung La Nyala biasanya kalah. Jadi kami yakin Prabowo-Sandi akan menang Pilpres 2019,” tandasnya.

 

Sumber


Gerindra Bela Rachel Maryam Soal Freeport: Pemerintah Buru-buru

GerindPemerintah Buru-buru

Anggota Badan Komunikasi Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra Andre Rosiade menjelaskan cuitan kader partainya, Rachel Maryam, soal divestasi PT Freeport Indonesia. Rachel mengkritisi langkah pemerintah membeli mayoritas saham Freeport ketimbang menunggu masa kontrak habis pada 2021.

Menurut Andre, inti dari cuitan rekannya itu adalah untuk mengkritisi pemerintah lantaran terlalu terburu-buru untuk membeli saham Freeport. Padahal, menurut dia, apabila pemerintah menunggu sejenak, paling tidak hingga masa pemerintahan baru, Indonesia bisa mendapatkan tambang di Papua itu dengan harga yang murah, bahkan cuma-cuma.

“Ada wacana kontraknya habis 2021, kan dua tahun sebelumnya yaitu pada 2019 kita bisa negosiasi dengan Freeport untuk memperpanjang kontrak atau tidak, seharusnya tunggu pemerintah baru dulu di 2019,” ujar Andre kepada Tempo, Selasa, 25 Desember 2018.

Sebelumnya Rachel menyindir tak sedikit pihak yang mengapresiasi keberhasilan Indonesia menguasai 51,2 persen saham PTFI tersebut. “Ada rumah dikontrakin ke orang. Pas kontraknya abis, untuk bisa ambil alih rumahnya sendiri, si pemilik rumah harus beli ke yg ngontrak. Belinya pake duit utang ke tetangga. Lalu semua tepuk tangan bahagia,” ujarnya seperti dikutip dari cuitan di akun Twitter-nya, @cumarachel pada Sabtu pekan lalu, 22 Desember 2018.

Cuitan itu sempat menuai berbagai respons warganet hingga pakar ekonomi. Lantaran itu, Rachel pun kembali membuat cuitan anyar soal Freeport. “Gini lho. Dari pada utang untuk bayar saham yg sebenernya gausah dibeli di thn 2021, lebih baik uang hutangnya dipakai untuk beli modal aset2 untuk mengganti aset2 yg khawatir akan diangkutin si pengontrak itu. Sama-sama ngutang, tapi kedaulatan menjadi 100 persen,” cuit dia.

Senada dengan Rachel, Andre menyebut pemerintah mestinya mencermati bahwa Freeport masih memiliki kewajiban untuk membayar denda akibat sejumlah pelanggaran yang dilakukannya. Salah satu perkara yang diungkit Andre adalah soal temuan Badan Pemeriksa Keuangan mengenai kerusakan lingkungan yang diakibatkan aktivitas perusahaan pertambangan itu.

“Hasi audit BPK-nya kan kita rugi ratusan triliun dengan kerusakan lingkungan itu, harusnya tunggu dulu kita tunggu dulu pemerintahan baru, jangan dikemas sekadar untuk pencitraan,” ujar Andre. Ia tak ingin gara-gara Pemilu, pemerintah jadi terburu-buru mengeluarkan kocek dari utang dengan nominal hingga di atas Rp 50 triliun itu. “Ini bisa menambah beban untuk bangsa kita, padahal kita bisa dapat lebih murah, bahkan gratis.”

 

Sumber


Pertemuan SBY-Prabowo Tangkis Kabar Kurang Harmonis

Pertemuan SBY-Prabowo Tangkis Kabar Kurang Harmonis

Politikus Partai Gerindra Ahmad Riza Patria menangkis bahwa hubungan partai Gerindra dan Partai Demokrat kurang harmonis.

Hal ini terkait dengan pertemuan antara Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY dengan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto pada Jumat (21/12/2018) kemarin.

“Jadi saya kira polemik di luar yang menyatakan bahwa seolah-olah ada hubungan yang kurang pas antara Gerindra dengan Demorkat itu salah ya. Justru Demokrat memberikan dukungan yang baik, dukungan yang besar, dukungan yang luas, dan kongkrit,” kata Riza saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (22/12/2018).

Untuk itu, Riza menegaskan bahwa dukungan dan komitmen dari partai Demokrat tidak perlu diragukan lagi dalam mendukung pasangan Prabowo-Sandi.

Lanjutnya, orang-orang tidak perlu mempermasalahkan lagi hubungan partai Gerindra dan partai Demokrat karena tidak ada yang dipermasalahkan.

“Kita tahu pak SBY adalah presiden 10 tahun yang berhasil, yang komitmennya sangat besar, sangat tinggi. Dan kami yakin komitmen dukungan partai Demokrat pada Prabowo-Sandi akan membuahkan hasil pada pemenangan Pilpres 2019,” ujarnya.

Terkait tidak hadirnya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon dan Sekretaris Jenderal Partai Gerindar Ahmad Muzani, Riza menyebut tidak perlu dipermasalahkan karena memang keduanya tidak bisa hadir pada saat pertemuan tersebut.

“Jadi masa semua harus hadir, apalagi kan ini sedang reses anggota dewan rata-rata di dapil masing-masing,” katanya.

 

Sumber