Data Pemilih Memprihatinkan

DPR Meragukan Akurasi Data

Sebagian besar anggota Komisi II DPR meragukan akurasi Data Pemilih Sementara yang sedang dimutakhirkan dan disusun Komisi Pemilihan Umum. Untuk itu, KPU harus lebih giat menyosialisasikan pendaftaran pemilih dan membagikan Data Pemilih Sementara kepada partai politik di tingkat kelurahan.

Berbagai pertanyaan, masukan, dan imbauan disampaikan para anggota Komisi II DPR ketika melaksanakan rapat dengar pendapat dengan KPU, Badan Pengawas Pemilu, dan Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Departemen Dalam Negeri Abdul Rasyid Saleh di Jakarta, Kamis (18/9).

Anggota Komisi II, Lena Maryana Mukti (Fraksi Partai Persatuan Pembangunan), mengungkapkan, dari sepuluh tahapan pemilu, penyusunan daftar pemilih merupakan tahapan yang paling penting. DPR, lanjutnya, telah mengingatkan Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan untuk menyusun sistem informasi administrasi kependudukan yang akurat sehingga bisa menjadi data awal penyusunan data pemilih pemilu.

“Tahapan itu merupakan roh demokrasi Indonesia. Akurasi data pemilih sangat penting. KPU harus mempunyai terobosan baru untuk mengumumkan daftar pemilih sehingga masyarakat mengetahui apakah sudah terdaftar atau belum. Saya lihat di website KPU juga tidak ada, jadi bagaimana bisa mengakses pengumuman DPS (Data Pemilih Sementara)?” kata Lena.

Andi Yuliani Paris (Fraksi Partai Amanat Nasional) mengatakan, ketika turun ke daerah-daerah, ada beberapa desa yang tidak memasang DPS. Selain itu, DPS yang seharusnya diserahkan ke parpol untuk mendapat masukan juga tak dilaksanakan Panitia Pemilihan Kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara (PPS). Ia juga menerima adanya laporan data penduduk berupa cakram padat setelah dibuka ternyata kosong.

Anggota Komisi II, Ferry Mursyidan Baldan (Fraksi Partai Golkar), mempertanyakan optimalisasi pemutakhiran data pemilih yang telah dilakukan di daerah- daerah. “KPU pernah menjamin KTP bisa dijadikan kartu pemilih di pemilu, apakah ini nanti juga bisa diberlakukan?” katanya.

Menanggapi hal itu, anggota KPU, Sri Nuryanti, yang menjadi Ketua Pokja Pemutakhiran Data Pemilih, mengungkapkan, ada beberapa kendala dalam pemutakhiran data pemilih, seperti masalah geografis yang sulit dijangkau petugas PPS sehingga membutuhkan waktu untuk menjangkau sebuah tempat.

“Selain itu, juga perubahan stelsel pasif menjadi stelsel aktif untuk mendapatkan data pemilih. Misalnya, masyarakat yang didatangi belum tentu ada di rumah sehingga harus menunggu atau mendatangi lagi,” ujar Sri.

Mengenai pertanyaan data penduduk yang kosong, ia mengungkapkan, data per tanggal 5 April yang diserahkan pemerintah kepada KPU memang ada yang masih kurang. “Jadi bukan kosong, tetapi datanya belum masuk. Namun, saat ini semua data penduduk sudah ada,” katanya.

Menurut data KPU, jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPS sebanyak 172.800.716 jiwa, kemudian dimutakhirkan menjadi 170.752.862 jiwa. Dengan demikian, ada penurunan sebesar 2.047.854 jiwa. Menurut Sri Nuryanti, penurunan angka DPS karena banyak data yang dobel.  (kompas)


Pembekalan Caleg Gerindra

Selama dua hari dari tangal 15 – 16 September 2008, berlangsung Pembekalan Calon Legislatif DPR RI dari Partai Gerindra yang diikuti sekitar 250 caleg dari nomor urut satu sampai tiga.Tampak hadir juga dari kalangan artis yang menjadi caleg , antara lain Rachel Mariam, Jamal Mirdad, Ana Tairas dan Steve Imanuel.

Acara yang berlangsung di Puri Agung, Hotel Sahid Jakarta dibuka oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Prof. Suhardi, senin kemarin. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan untuk para caleg partai ini. Banyak pembicara didatangkan dalam acara ini, antara lain Didik Supriyanto, ahli komunikasi Effendi Gozali, Fadli Zon, Amran Nasution, Hadar Gumay dari CETRO dan lain lain. Materi Khusus pembekalan ini disampaikan oleh Letjen TNI Purn Prabowo Subianto selaku Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Antusias peserta begititu tinggi, sampai waktu dua setengah jam terasa singkat untuk mendengarkan pidato Prabowo itu..Mantan Pangkostrad ini berharap Partai Gerindra akan mendapatkan dukungan dari masyarakat yang sebanyak banyaknya dan menjadi partai pemenang pemilu 2009.Tentunya dengan kerja keras para kadernya dan ujung tombaknya adalah para caleg. (MAM)


Gerindra Gembleng Para Caleg DPR Se-Indonesia

Sebanyak 600 calon anggota legislatif dari Partai Gerindra akan digembleng selama dua hari di Hotel Sahid, Jakarta. Kegiatan ini dalam rangka penyamaan visi, misi, dan persepsi.

“Selain itu juga untuk menyiapkan langkah-langkah pemenangan pemilu,” ujar Wakil Ketua Partai Gerindra Fadli Zon saat berbincang dengan okezone di Jakarta, Senin (15/9/2008).

Kegiatan ini, kata dia, bersifat internal sehingga tertutup untuk pihak lain. “Ini yang pertama. Selanjutnya akan ada Rapimnas yang akan dihadiri seluruh caleg Partai Gerindra dari tingkat DPR, DPRD I, dan DPRD II Se-Indonesia pada 13-16 Oktober di Jakarta Convention Center,” ujarnya.

Lebih jauh, Fadli Zon menyatakan Partai Gerindra akan sukses dalam Pemilu 2009 dan menjelma menjadi salah satu partai besar di Indonesia. Salah satunya karena para caleg yang diusung merupakan figur besar. Di antaranya, aktivis Pius Lustrilanang dan Desmond J Mahesa, purnawirawan TNI Gledy Kairupan, Bekas Kepala BKKBN Sumiarti Haryoso. “Serta sejumlah nama mantan pejabat lain,” ujarnya.


Gerindra Targetkan Usung Capres di Pemilu 2009

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ambisius menargetkan 20 persen kursi menuju Gedung Senayan. Bahkan partai itu serius mampu mengusung capres di Pemilu 2009.

“Minimal bisa bawa capres. Kalau dari parlemen 20 persen ya kita mudah-mudahan bisa sampai 20 persen,” ujar Ketua Umum Gerindra, Suhardi.

Hal itu disampaikan Suhardi di sela-sela acara Pembekalan Caleg DPR RI Partai Gerindra di Hotel Sahid, Jl Sudirman, Jakarta, Senin (15/9/2008). Acara ini tertutup untuk wartawan.

Sebelumnya Gerindra bertekad mengusung mantan Pangkostrad Prabowo Subianto sebagai capres.

Suhardi belum mau terbuka soal lumbung suara terbanyak Gerindra. “Tidak dibedakan lumbung suara di mana tapi kalau jumlah orang yang paling banyak di Pulau Jawa,” jelasnya.

Menurut Suhardi, partai yang dipimpinnya tidak identik dengan petani. Namun tetap memperhatikan kepentingan rakyat. “Sesuatu yang sudah diketahui semua orang, tapi tidak dikerjakan semua orang,” kata Suhardi.

Sementara soal heboh padi Super Toy, Suhardi menegaskan, masalah itu jangan diperbesar. “Super Toy salah satu sumber terkecil dari sumber kita yang paling banyak,” tandas Suhardi. (detik.com)


Memetakan Kekuatan Partai Politik 2009

Pemilu 2009 tak hanya akan ditentukan oleh penguasaan wilayah partai politik, tetapi juga oleh aspek-aspek kualitatif parpol. Kepercayaan dan harapan terhadap parpol yang terbangun oleh menguatnya soliditas, ideologisasi, dan kepemimpinan parpol akan turut menentukan.

Jumlah partai politik tidak menyebabkan berkurangnya penetrasi partai besar, tetapi lebih berpengaruh pada partai kecil.

Semakin banyak partai, penguasaan wilayah oleh partai kecil semakin sulit. Hal ini terbukti dari konsentrasi yang cenderung mengelompok pada sedikit partai dalam Pemilu 1999. Dari 313 wilayah kabupaten/kota, hanya enam partai dari total 48 partai yang mampu memenangi wilayah. Sebaliknya, dalam Pemilu 2004 jumlah partai berkurang menjadi 24, tetapi terdapat 16 partai yang mampu merebut wilayah.

Jika ditotal, jumlah penguasaan wilayah kabupaten/kota oleh dua partai besar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Golkar, pada Pemilu 1999 mencapai 89,4 persen atau 280 wilayah, dan pada Pemilu 2004 mencapai 81,8 persen atau 360 kabupaten/kota. Pergeseran kekuatan paling signifikan juga hanya terjadi pada Partai Golkar dan PDI-P.

Kalau pada Pemilu 1999 PDI-P mampu menguasai 53 persen atau 166 dari 313 kabupaten/kota, pada Pemilu 2004 hanya mampu meraih 20,2 persen dari 440 kabupaten/kota. Sebaliknya, Partai Golkar, yang tadinya terpuruk dan hanya menguasai 36,4 persen, dalam pemilu terakhir mampu menaikkan penguasaan wilayahnya menjadi 61,6 persen atau 271 kabupaten/kota. Meskipun secara nasional perolehan suara Partai Golkar turun dari 22,4 persen pada tahun 1999 menjadi 21,6 persen pada tahun 2004, sebaran wilayah yang mampu dimenangi partai berlogo beringin ini semakin banyak.

Penguasaan wilayah oleh Partai Golkar pada Pemilu 2004 banyak terjadi di wilayah hasil pemekaran. Dari 143 daerah yang dimekarkan tahun 1999-2004, 72 persen atau 103 wilayah pemekaran dimenangi Partai Golkar pada Pemilu 2004. PDI-P hanya memenangi 12,6 persen wilayah pemekaran, sisanya diperebutkan oleh partai-partai kecil lainnya.

Meski hingga Pemilu 2004 penguasaan wilayah masih didominasi Partai Golkar dan PDI-P, penguasaan wilayah belum tentu menjadi variabel yang menjamin perolehan suara besar. Banyak soal harus diperhatikan, seperti tumbuhnya wilayah hotspot atau sentral penyebaran akibat kemenangan sebuah partai dalam pilkada. Selain itu, juga oleh tingkat pengenalan publik terhadap partai, kepercayaan dan penilaian pemilih terhadap partai, serta dinamika partai.

Wilayah hotspot bisa menjadi titik sentral yang berpotensi menambah kepercayaan partai dan pemilih untuk mengubah peta kekuatan wilayah. Bahkan, pengaruhnya mungkin akan menyebar di wilayah sekitarnya. Kemenangan sebuah partai dalam pilkada di wilayah yang menjadi basis partai lain maupun basis massanya menjadi variabel yang layak diperhitungkan.

Kemenangan calon dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di wilayah Jawa Barat yang dikuasai oleh Partai Golkar dalam pemilu sebelumnya bisa punya imbas ke wilayah-wilayah di dalam maupun sekitar Jawa Barat, seperti Banten dan Jawa Tengah bagian barat. Jakarta telah menjadi wilayah hotspot bagi PKS pada pemilu sebelumnya dengan kemenangannya di wilayah ibu kota negara ini.

Sementara kemenangan PDI-P dalam Pilkada Jawa Tengah bisa berimbas ke wilayah Jawa Timur yang saat ini relatif mencair. Keretakan di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa, yang menguasai sebagian besar wilayah Jawa Timur dalam pemilu sebelumnya, bisa menjadi peluang bagi PDI-P untuk menguat di wilayah ini.

Jika Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur dikuasai PDI-P serta Jawa Barat dan Banten oleh PKS, lumbung suara untuk Partai Golkar akan terkonsentrasi di wilayah-wilayah luar Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Pengenalan partai

Dalam jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas, awal Agustus lalu, terlihat bahwa pengenalan publik terhadap partai-partai baru masih berada di bawah rata-rata. Hanya Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang tercatat berada di atas 50 persen. Partai Hanura pernah didengar oleh 67,9 persen responden dan Partai Gerindra oleh 60,3 persen. Kedua partai ini juga lebih terkenal dibandingkan dengan sejumlah partai lama, seperti PKPB, PKPI, Partai Pelopor, PDK, PPD, maupun PPDI.

Penetrasi iklan di media, bisa jadi, turut mendongkrak popularitas Partai Hanura dan Gerindra. Meski demikian, pengenalan nama partai ternyata tidak identik dengan pengenalan terhadap nama ketua umumnya. Responden yang mampu menyebutkan secara spontan ketika diajukan pertanyaan apakah mengetahui nama Ketua Umum Partai Hanura hanya 36,7 persen dan Partai Gerindra hanya 2,2 persen.

Belum lekatnya nama partai dengan nama ketua umumnya juga dialami partai lama, termasuk Partai Demokrat yang nama ketua umumnya hanya dikenal 4,9 persen responden. Bahkan, nama Ketua Umum Partai Golkar hanya diketahui 49,2 persen responden. Pengenalan publik paling tinggi adalah pada nama Ketua Umum PDI-P, yang diketahui 79,5 persen responden.

Nama ketua umum

Namun, pengenalan nama ketua umum tidak menjamin penetrasi yang kuat untuk menggaet pemilih. Masih ada soal lain yang selayaknya diperhatikan, yakni kepercayaan, soliditas, wacana penguatan ideologi, dan kepemimpinan.

Hingga saat ini hanya 54,7 persen responden yang merasa aspirasi politiknya sesuai dengan salah satu partai yang resmi mengikuti Pemilu 2009. Sisanya, 13,2 persen menyatakan tidak ada partai yang sesuai dan 32,1 persen belum tahu mana partai yang sesuai dengan aspirasi politiknya. Di antara 34 partai politik, PDI-P, PKS, dan Partai Demokrat dianggap sebagai partai yang paling sesuai dengan aspirasi mereka.

Selain dari aspek aspirasi, PDI-P juga menempati peringkat paling tinggi dilihat dari sisi penguatan wacana ideologi kepartaian dan kepemimpinan saat ini. Partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri ini, dalam beberapa aspek, berebut pengaruh dengan PKS. Sisi-sisi yang menjadi kekurangan PDI-P diisi oleh PKS, demikian juga sebaliknya. PKS menempati peringkat tertinggi dilihat dari aspek dipercayai membawa perubahan dan memiliki solidaritas keanggotaan paling kuat. Partai Golkar, meskipun penguasaan wilayahnya paling besar saat ini, memiliki peringkat lebih rendah dalam aspek-aspek penting di atas dibandingkan dengan PDI-P dan PKS.

Dinamika partai

Dengan memperhitungkan penguasaan wilayah dan aspek-aspek kualitatif seperti ini, Pemilu 2009 akan sangat ditentukan oleh dinamika partai. Dinamika yang diperlihatkan sebuah partai akan menutupi sejumlah kelemahan lainnya.  (Litbang Kompas)


585 Pages« First...10...579580581...Last »