buruh

Berbagai organisasi buruh yang tergabung dalam Koalisi Buruh Jakarta mendeklarasikan dukungan untuk pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI putaran kedua. Deklarasi dilakukan di kantor DPP Partai Gerindra di Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (1/4).

Deklarasi dukungan secara simbolik ditandai dengan penandatanganan perwakilan pimpinan masing-masing organisasi serikat buruh dan disaksikan oleh Anies-Sandi dan beberapa petinggi Partai Gerindra. Beberapa di antaranya adalah Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), dan Serikat Pekerja Nasional (SPN).

Dalam orasinya, Presiden KSPI Said Iqbal meminta seluruh buruh ikut membantu pemenangan pasangan nomor urut tiga tersebut. Iqbal meminta buruh turut menyosialisasikan pasangan Anies-Sandi ke tetangga dan kerabat.

Dia juga meminta kepada ratusan buruh yang hadir untuk turut menjaga TPS di sekitar rumahnya agar berlangsung tanpa kecurangan. “Siap untuk door to door? Jaga Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Serbu dan gempur Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Menangkan Jakarta Pusat,” kata Iqbal di hadapan ratusan buruh yang hadir.

Iqbal mengatakan, dukungan buruh kepada pasangan yang diusung Gerindra dan PKS ini bukan karena alasan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Tetapi, dia mengatakan calon gubernur pejawat Ahok-Djarot dinilainya tak berpihak kepada rakyat kecil terutama buruh, dan justru berpihak ke pengembang besar dan konglomerat.

Sementara itu, cagub Anies Baswedan menyambut baik dukungan dari kelompok buruh ini. Ia mengajak buruh untuk ikut menjaga Pilkada DKI berlangsung jujur, adil dan demokratis. Anies juga meminta bantuan agar TPS-TPS yang pada putaran pertama terindikasi ada kecurangan dijaga dan diawasi terutama di Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

“Jakarta Utara siap mengamankan? Jakarta Barat siap mengamankan? Amankan tiap-tiap TPS. Karena hasilnya mengejutkan dan ini bisa muncul kembali jika kita tidak berhati-hati,” ujar dia.

Anies mengatakan, pada putaran pertama ada 542 TPS yang perolehan suaranya aneh. Dia menyebutnya fenomena itu lucu. Di mana perolehan suara pasangan Ahok-Djarot sampai 96 persen. Hal itu dinilainya tidak wajar.

 

Sumber