Oleh : Budi Sucahyo, M. Budiono

Kemenangan pasangan Jokowi – Basuki dalam putaran pertama Pemilukada DKI Jakarta berdasarkan hasil quick count berbagai menjungkirbalikkan hasil survei. Jokowi yang menurut survei berada di urutan kedua, melesat ke posisi pertama mengalahkan calon incumbent Fauzi Bowo.

Hari pencoblosan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta pada Rabu, 11 Juli 2012, menjadi hari yang tak akan terlupakan bagi Fauzi Bowo, calon gubernur (Cagub) incumbent. Pada hari itulah Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo, yang berpasangan dengan calon wakil gubernur (Cawagub) Nachrowi Ramli atau Nara mendapat “pukulan telak” tepat menusuk dada incumbent.

Bahkan diluar dugaan, pasangan Cagub Joko Widodo (Jokowi) dan Cawagub Basuki (Ahok) —pasangan yang masing-masing pernah memperoleh penghargaan sebagai tokoh anti korupsi – berhasil menumbang pasangan Foke – Nara. Di Kelurahan Gondangdia — tempat kediaman Foke — cagub incumbent ini, menurut perhitungan suara resmi dilakukan panitia pemungutan suara (PPS) Kelurahan Gondangdia, Foke – Nara hanya berada di peringkat kedua, dengan meraih hanya 620 suara. Peringkat pertama di kandang Foke itu direbut oleh pasangan Jokowi – Ahok, 1.073 suara.

Kemenangan pasangan Jokowi – Ahok di Gondangdia itu, ternyata telah cukup memberikan gambaran bahwa keinginan Foke untuk menang dalam satu putaran pada Pemilukada kali ini hanya impian belaka. Terbukti, hasil penghitungan suara secara quick count oleh berbagai survei, menempatkan pasangan Jokowi-Ahok meraih suara terbanyak, 42% lebih, sementara pasangan Foke – Nara hanya 32% lebih.

Hasil Pemilukada DKI Jakarta bukan hanya membuat Foke-Nara jadi terperangah, tapi juga menjungkir balikkan hasil survei berbagai lembaga survei yang dilakukan sebelum pemilukada berlangsung yang jelas-jelas mengunggulkan pasangan Foke-Nara, bahkan ramalan yang optimistis incumbent akan menang satu putaran.

Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) misalnya, tiga bulan menjelang pemilukada merilis hasil surveinya. Hasilnya, pasangan Foke – Nara menempati urutan pertama dengan meraih 49,1% suara, dan berpotensi menang dalam satu putaran. Sementara Jokowi – Ahok menempati urutan kedua, hanya memperoleh 14,4% suara.

Lalu, kurang dari satu bulan sebelum pemilihan, LSI kembali merilis hasil surveinya, mengubah hasil suvei yang disampaikan sebelumnya. Hasilnya, baik satu atau dua putaran, pasangan Foke – Nara memiliki kemungkinan terbesar memenangi Pemilukada DKI Jakarta tahun ini. Alasannya, karena tidak ada peningkatan dukungan yang signifikan didapat para kompetitor calon incumbent. Pasangan Foke-Nara masih diurutan pertama didukung 43,7%, sedang Jokowi-Ahok tetap didukung 14,4% suara.

Namun, kenyataan berkata lain. Segera setelah pemungutan suara di TPS (tempat pemungutan suara) ditutup, beberapa lembaga survei mengumumkan hasil quick count (hitungan cepat) yang hasilnya membalikkan hampir 180% hasil survei LSI tersebut. Semua lembaga survei menempat Jokowi-Ahok di urutan pertama dengan perolehan suara lebih dari 42%, dan memastikan pemilkada berlangsung dua utaran.

Inilah hitung cepat yang dilakukan beberapa lembaga survei. Quick count dilakukan Jaringan Suara Indonesia (JSI) menghasilkan: Foke-Nara meraih 34,42% suara; Hendardji-Riza 1,88%; Jokowi-Ahok 41,97%; Hidayat-Didik 11,4%; Faisal-Biem 5,15%; dan pasangan Alex-Nono 5,16%.

Sementara Prisma: Foke-Nara 34,58%; Hendardji-Riza 1,73%; Jokowi-Ahok 42,69%; Hidayat-Didik 11,57 %; Faisal-Biem 4,89%; dan Alex-Nono 4,54%. Lalu Stekpi menghasilkan: Foke-Nara 34,38 %; Hendardji-Riza 1,98%; Jokowi-Ahok 40,49%; Hidayat-Didik 12,58%; Faisal-Biem 5,11%; dan Alex-Nono 5,47%.

Perhitungan nyaris sama juga dilakukan oleh LSI, yang hasilnya sbb: Foke-Nara 34,17%; Hendardji-Riza 1,82%; Jokowi-Ahok 43,04%; Hidayat-Didik 11,77%; Faisal-Biem 4,83%; dan Alex-Nono 4,37%. Sedangkan perhitungan cepat Indobarometer, menghasilkan: Foke-Nara 33,8%; Hendardji-Riza 2,6%; Jokowi-Ahok 42,2%; Hidayat-Didik 11.5 %; Faisal-Biem 5,1%, semenatar Alex-Nono hanya 4,7%.

Sinyal Matinya Politik Uang

Pada pagi hari pelaksaan pencoblosan Jokowi berada di kediaman Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Jl. Kebagusan No. 45 Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di TPS 031 Kebagusan, tempat mantan Presiden RI ini memberikan suaranya, Jokowi – Ahok menang mutlak, dengan meraih suara 190, sedang Foke hanya 92 suara.

Usai mendampingi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mencoblos — meski hasilnya belum diketahui — dengan modal keyakinan Jokowi langsung melakukan maneuver (bergerak) cepat. Di tengah penghitungan quick count masih berlangsung, Jokowi meluncur ke Posko Hidayat – Didik di Warung Buncit, Jakarta Selatan. Cagub Jokowi dan Hidayat menggelar pertemuan tertutup sekitar 20 menit.

“Tadi pagi saya telepon Pak Hidayat. Alhamdulillah sudah ketemu. Agenda ini tujuannya pertama silaturahim, kedua kami juga ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa pemilukada itu tidak panas, wong pemimpinnya bisa rukun seperti ini, masa yang di bawah panas,” katanya usai pertemuan.

Hidayat menambahkan, pertemuan ini memang merupakan bagian dari silaturahim antara dia dan Jokowi. “Maksud kunjungan ini silaturahim saja, hal yang selalu dipentingkan. Karena politik bukanlah permusuhan,” katanya. Usai pertemuan tersebut, Jokowi meninggalkan Posko Oranye milik Hidayat – Didik, ia lalu menuju Posko Jokowi – Ahok di Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat.

Tidak hanya bersilaturahim dengan pasangan Hidayat – Didik, Jokowi juga menjalin komunikasi dengan calon-calon gubernur DKI yang lain. Semuanya berhasil dihubungi, kecuali Foke. Jokowi mengaku sudah berkali-kali menghubungi Foke via telepon genggamnya, tetapi tidak diangkat.

“Semua sudah saya hubungi. Komunikasi harus berjalan terus. Silaturahim kan baik. Semua bisa ngobrol bahkan ada yang bertemu. Tapi Pak Foke belum bisa menerima telepon saya,” ujar Jokowi di Solo, Kamis 12 Juli 2012, seraya memperlihatkan rekaman panggilan keluar maupun panggilan masuk telepon genggamnya. Dalam panggilan keluar memang tertera nomor yang disimpan dengan nama-nama calon Gubernur DKI, termasuk Fauzi Bowo. “Mungkin masih sangat sibuk atau bagaimana, yang jelas saya belum berhasil berkomunikasi dengan Pak Foke,” kata Jokowi.

Kemenangan Jokowi– Ahok ini, menurut Fadli Zon dalam acara dialog di sebuah stasiun televisi swasta, Senin petang (16/7), menunjukkan bahwa rakyat menginginkan perubahan. “Mudah-mudahan ini menjadi sinyal matinya politik uang, dan kesewenangan kekusaan,” ujar Fadli Zon dala dialog itu. Dan, Fadli Zon yakin, pada putaran kedua nanti, pasangan Jokowi-Ahok akan tetap unggul alias memenangkan Pemilukada DKI Jakarta tahun 2012 ini.
Selain itu, di mata rakyat pemilih, Jokowi adalah sosok yang sangat bersahaja. Buktinya, seorang ibu dengan dua anak ketika berada di TPS Megawati di Kebagusan menyaksikan langsung sosok yang meraih predikat walikota terbaik di dunia lewat depannya, dengan rasa kagum si ibu ini berkata: Sungguh sangat sederhana. Ia lalu meminta kepada kedua anaknya agar mendoakan Jokowi menang.
Mungkin, bukan hanya ibu itu saja yang mendoakan Jokowi menang, tapi sebagian penduduk DKI Jakarta yang telah bosan dengan suasana begini-begini saja. Maka tak heran kalau Direktur Citra Komunikasi LSI Toto Zulhaq berpendapat, peluang Foke untuk menduduki kursi DKI 1 sangat berat. Karena suara yang dimiliki Jokowi tidak akan berkurang, malah cenderung akan bertambah. Pemilih memang cerdas.

Print Berita