Lombok - Kepedulian Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) terhadap nasib petani dan pertanian Indonesia bukan isapan jempol. Di Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB) contohnya, DPC Gerindra setempat bekerja keras  meningkatkan kemakmuran petani melalui budidaya tanaman melon.

Fantastis. Itulah kata  yang patut dilayangkan untuk mengapresiasi  keberhasilan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Lombok Tengah (Lomteng) dalam menyejahterakan petani. Berkat upaya dan kerja kerasnya, kini sebagian petani di daerah tersebut mulai merintis jalan menuju kesejahteraan setelah berhasil mengomversi budidaya tanaman padi menjadi tanaman melon.

Adalah DPC Partai Gerindra Lomteng yang memberi saran kepada para petani agar mengganti tanaman padi menjadi tanaman melon. Hasilnya, ternyata penghasilan para petani meningkat tajam. Bandingkan saja, untuk areal sawah seluas 5 are dengan menanam padi, petani hanya bisa mendapatkan hasil sekitar Rp 2 juta selama kurun waktu tiga bulan. Penghasilan itu berasal dari hasil padi untuk lahan seluas 5 are sebanyak 5 kwintal dikali Rp 400 ribu per kwintal. Jumlah tersebut belum dipotong biaya produksi yang besarnya mencapai Rp 500 ribu. Praktis, petani hanya mendapatkan hasil sebesar Rp 1,5 juta dalam rentang waktu tiga bulan. Atau Rp 500 ribu sebulan.

Tapi, setelah beralih ke tanaman melon, para petani bisa meraup penghasilan Rp 10 juta selama 70 hari untuk luas lahan 5 are. Setelah dikurangi biaya produksi sebesar Rp 2,5 juta, maka penghasilan bersih petani menjadi Rp 7,5 juta. Artinya, penghasilan bulanan petani setelah membudidayakan melon jauh lebih besar dibanding ketika mereka masih menanam padi.

Meningkatnya penghasilan petani setelah melakukan perubahan tanaman dari padi menjadi melon, diakui oleh Lalu Adi (30). Menurut petani  melon asal Desa Ganti, Kecamatan Raya Timur Kabupaten Lomteng yang juga simpatisan Gerindra, saat ini  jumlah petani melon di desanya terus bertambah. Kini jumlahnya kira-kira mencapai 280 orang. Padahal, sebelum  masuknya tanaman melon, semua petani di desa Ganti, bercocok tanam padi.

Lalu Adi yang menanam melon sejak 2008 itu, kini mulai merasakan hasilnya. Apalagi lahan melon yang dimilikinya mencapai 1 hektar. Artinya setiap panen Adi mendapatkan penghasilan kotor  sebesar Rp 50 juta. Jumlah tersebut diperoleh dari  hasil  penjualan panen melonnya sebanyak 50 ton.  Dengan penghasilan sebesar itu,  menurut Adi, kebutuhan hidup keluarganya  bisa terpenuhi dengan baik. Dan, anak-anaknya pun bisa bersekolah dengan layak.

“Saya sudah bisa beli kendaraan, dan sedang menabung untuk bisa berangkat haji. Untuk saat ini, kalau partai Gerindra, khususnya di Lomteng, membutuhkan dana maka para petani tidak keberatan untuk membantu. Mereka sadar bahwa perubahan menuju kesejahteraan ini berkat perjuangan Partai Gerindra. terutama pengurus DPC Gerindra Lombok Tengah,” ujar Adi.

Sekolah di Bogor

Ide mengubah dari bertanam petani menjadi petani melon  dicetuskan oleh DPC Gerindra Lombok Tengah untuk menjawab persoalan yang kerap dikeluhkan oleh para petani setempat. Soalnya, selama bertahun-tahun petani melakukan usaha secara turun-temurun dengan menanam padi, tapi kehidupan mereka tetap jalan ditempat alias tak maju-maju.

Bahkan, tidak sedikit petani yang jatuh miskin. Dan, lebih parah lagi, sebagian petani di sana terpaksa menjual lahan persawahannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara mereka sendiri memilih menjadi buruh tani atau mengerjakan pekerjaan kasar lainnya.

Melihat kenyataan itu,  DPC Gerindra Lombok Tengah pada 2008   berinisiatif mengirim enam orang petani Lomteng ke Bogor. Di sana mereka ditugaskan untuk belajar cara budidaya tanaman melon. Sekembalinya dari Bogor, ke enam petani tersebut, menurut Ketua DPC Gerindra Lomteng H. Muhdan Rum, langsung menerapkan ilmu yang diperolehnya.

“Tak disangka-sangka hasil yang didapat sangat bagus. Sejak itu kami terus mengembangkan budidaya melon dan banyak petani di sekitarnya juga ikut-ikutan menanam melon, lantaran mereka melihat hasil panen yang sangat banyak,” cerita  Muhdan Rum kepada Gema Indonesia Raya.

Berkat keberhasilan itu maka jumlah petani melon di Lombok Tengah terus bertambah. Akibatnya, produksi melon Lomteng juga terus meningkat. Saat ini melon petani Lomteng sudah bisa memenuhi seluruh permintaan melon yang ada di NTB. Bahkan mulai meluas hingga mencapai ke Surabaya dan Bali.

Untuk menghindari terjadinya kelebihan produksi melon yang bisa berimbas pada turunnya harga, DPC Gerindra Lomteng masih terus mencari potensi pasar di daerah yang lain. Semata-mata agar hasil panen petani bisa dipasarkan dengan harga yang bagus.

“Kami juga tengah memikirkan mencari teknologi yang tepat dalam pengelolan melon menjadi produk-produk turunan. Dengan cara begitu, tercipta  lapangan pekerjaan, dan penghasilan bagi tenaga produktif yang saat ini masih menganggur yang ada di Lombok Tengah”, kata Ketua DPC Gerindra Lombok Tengah itu menambahkan.

(partaigerindra.or.id)