MEDAN – Aksi menentang kenaikan bahan bakar minyak (BBM) terus berlanjut. Kali ini, giliran Partai Gerindra yang menolak kebijakan tersebut.

Ratusan massa dari Partai Gerindra menolak rencana Pemerintah menaikkan harga BBM dengan menggelar aksi unjuk rasa di gedung DPRD Sumatera Utara, Kamis (22/3). Koordinator Aksi, Gelmok Samosir, dalam orasinya menuturkan, kenaikan BBM hanya akan mempersulit kehidupan rakyat. Karena kenaikan BBM akan disusul kenaikan harga-harga kebutuhan pokok.

“Bohonh jika ada yang mengatakan kenaikan BBM tidak membebani kehidupan rakyat,” katanya.

Menurut Gerindra, Pemerintah semestinya melakukan evaluasi atas produksi minyak dan gas nasional yang terus menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Turunnya produksi minyak dan gas itu akibat kurangnya eksplorasi dan eksploitasi di wilayah kerja operasi yang sudah ada.

“Kalau produksi nasional naik dan impor turun, harga akan terjangkau meskipun harga minyak dunia naik,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, Pemerintah seharusnya menghemat anggaran untuk belanja pegawai yang terus meningkat sementara subsidi BBM turun drastis.

Opsi lainnya, Pemerintah seharusnya memikirkan energi alternative yang terbarukan seperti biodiesel dan bietanol. Pemerintah juga jangan sampai perhitungan harga BBM tergantung pada mekanisme pasar. “Sesuai konstitusi, kita ini bukan negara kapitalis,” ujarnya.

Oleh sebab itu, mereka menolak kenaikan BBM karena tidak diiringi langkah-langkah lain untuk menghindarkan rakyat dari dampak yang akan muncul. Mereka juga menilai, pemberian BLT sebagai kompensasi kenaikan BBM ini tidak akan menjadi solusi terbaik karena bantuan tunai tersebut tidak akan berarti apa-apa dengan melejitnya harga kebutuhan pokok.

(waspada.co.id)